Desa Ini Jadi Lumbung Stroberi, Desa Wisata Pandanrejo, Batu

Selain Apel di Kota batu, ada juga lumbung stroberi di Desa Pandanrejo Jawa Timur, kini jadi ikon Kota Batu. Lumbung stroberi ini sudah ada dari dulu

Desa Ini Jadi Lumbung Stroberi,  Desa Wisata Pandanrejo, Batu
suryamalang.com/Benni Indo
Desa Pandanrejo Batu Sekarang Jadi salah satu Lumbung Stroberi Di Jawa Timur 

Suryatravel.com, Batu - Kota Batu, identik dengan pegunungan dan apel. Untuk mendapatkan apel, cukup mudah di Kota Batu. Di kawasan Kecamatan Bumiaji, halaman depan setiap rumah hampir pasti ditanami apel.

Namun di Alun-alun Kota Batu ada dua buah ikon yakni apel dan stroberi. Lalu di mana mencari stroberi?

Berawal dari pertanyaan itulah kemudian muncul Lumbung Stroberi di Desa Wisata Pandanrejo, Kota Batu. Lumbung Stroberi ini dikelola secara profesional dan merupakan badan usaha milik desa. Lumbung Stroberi berada di Jalan Nurul Kamil, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Lumbung yang kini menjadi lahan tumbuh suburnya stroberi merupakan kandang mentok dulunya. Namun kemudian diubah dan menjadi wahana wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

Direktur Bumdes Raharjo Desa Wisata Pandanrejo, Mukhlas Rofiq menjelaskan Lumbung Stroberi pertama kali dibuka untuk publik pada Januari 2019. Dibukanya Lumbung Stroberi itu untuk melahirkan ikon di Desa Pandanrejo, dan umumnya Kota Batu.

“Karena desa wisata, ketika pertama kali buka agar ada ikonik orang datang ke sini akhirnya muncul stroberi. Di Alun-alun kan ada apel dan stroberi. Stroberinya di mana?” ujar Rofiq, Kamis (7/11/2019).

Keberadaan stroberi di Pandanrejo kata Rofik, sudah ada sejak lama. Saat itu Belanda membawa bibit stroberi dan murbei ke Pandanrejo. Sebagian banyak penduduk yang bertani menanam stroberi.

Seiring berjalannya waktu, produksi stroberi cenderung turun. Banyak petani yang beralih menanam selain stroberi. Kehadiran Desa Wisata dengan Lumbung Stroberinya ternyata berdampak besar terhadap masyarakat.

“Saat menjadi Desa Wisata polanya bergeser. Tidak hanya jual beli fresh, konsepnya berubah menjadi desa wisata. Berbasis petik buah dan edukasi. Itu yang kami jual. Di situ magnetnya stroberi,” ujar lelaki yang juga motivator tersebut.

Di bulan-bulan awal membuka usaha ini, banyak kerugian yang diderita. Karena pihaknya membeli stroberi dari petani dengan harga yang lebih mahal dari para tengkulak.

“Kami menyadari ingin menyejahterakan petani, bahkan sampai bulan ketujuh itu kondisinya terpuruk,” ujarnya.

Namun kini kondisi berbeda. Banyak wisatawan yang datang berkunjung. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya para muda-mudi ataupun keluarga, namun juga pemerintahan dan para pelajar. (Benni Indo)

Ikuti kami di
Editor: Wiwit Purwanto
Sumber: Surya Malang
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved