Benteng Van Den Bosh Ngawi, Jujugan Wisata Sejarah, Ada Sumur Tua Bekas Kuburan Massal

Benteng Van Den Bosh Benteng ini dulunya adalah markas TNI, dan saat itu kawasan benteng menjadi daerah terlarang bagi masyarakat umum karena difungsi

Benteng Van Den Bosh Ngawi, Jujugan Wisata Sejarah, Ada Sumur Tua Bekas Kuburan Massal
suryatravel/wiwit purwanto
Bagian depan Benteng Van Den Bosh di Kabupaten Ngawi 

Suryatravel.com – Sebuah saksi bisu perang yakni Benteng Van Den Bosh atau Benteng Pendem di Kabupaten Ngawi Jawa Timur kini menjadi salah satu jujugan wisata sejarah yang masih tetap terpelihara.

Benteng ini dulunya adalah markas TNI, dan saat itu kawasan benteng menjadi daerah terlarang bagi masyarakat umum karena difungsikan sebagai gudang amunisi.

Dari jarak yang tidak begitu jauh, Benteng Pendem mulai terlihat saat kami mendapati adanya gundukan tanah yang dibangun lebih tinggi dari benteng, juga parit lebar dengan kedalaman sekitar 2 meteran.

benteng 4
Salah satu sudut Benteng Van Den Bosh yang dulunya adalah komplek ruang penjara

Konon, gundukan tanah di sekeliling benteng dibuat untuk menahan genangan banjir di masa lalu, selain itu juga untuk mempersulit musuh mendekati dan memasuki area utama benteng.

Didalam parit itu, konon sengaja dipelihara buaya tujuannya menjaga jika para tawanan dan pekerja rodi jaman itu melarikan diri dari penjara dalam benteng, serta mencegah musuh masuk ke benteng.

Di bagian depan pintu utama benteng terlihat jelas angka 1839-1845, kemungkinan besar angka itu adalah tahun pembangunan Benteng Van Den Bosch.

Peninggalan masa kolonial Belanda ini biasa disebut Benteng Pendem yang berada di Kelurahan Palem, Kecamatan Ngawi Kota.

Memiliki ukuran bangunan 165 meter x 80 meter dengan luas tanah 15 hektar.
Letak Benteng Pendem ini sangat strategis karena berada di sudut pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun, hingga sering disebut sebagai Kali Tempuk.

Nama Van Den Bosch diabadikan sebagai nama benteng pendem karena saat pembangunan dilakukan, Van Den Bosch adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang membawahi Jawa dan Sumatera.

DInamakan Benteng Pendem karena dulunya sengaja dibangun lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi tanah tinggi, sehingga terlihat dari luar terpendam.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Wiwit Purwanto
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved