Pasar Papringan Jadi Andalan Desa Wisata Jambu, Ala Pasar Jadul Era Tahun 1960 an Di Kediri

wisata Pasar Papringan Desa Jambu, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri selalu ramai didatangi pengunjung.

Pasar Papringan Jadi Andalan Desa Wisata Jambu, Ala Pasar Jadul Era Tahun 1960 an Di Kediri
suryatravel/didik mashudi
Suasana Pasar Papringan Desa Wisata Jambu, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. 

Suryatravel.com - Berada di bawah papringan atau  di bawah rumpun bambu tidak menjadi penghalang bagi pengunjung. Justru lokasi di bawah papringan menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk datang.

Pasar Papringan Desa Jambu, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri selalu ramai didatangi pengunjung. Malahan pengunjung yang datang tidak hanya dari sekitar Kediri tapi juga dari luar kota.

Suasana pasar tradisional yang buka hari  Minggu ini mengingatkan kita pada kondisi pasar pada tempo dulu. Masyarakat yang selama ini menjadi pengelola pasar telag sadar menampilkan pelayanan terbaiknya. 

Para penjual dagangan di Pasar Papringan Desa Jambu mengingatkan kita pada paruh waktu tahun 1960 an. Perempuan yang menjual dagangan di pasar semuanya mengenakan busana zaman dahulu, pakaian bawah kain kemben jarit dipadu dengan baju lorek lengan panjang dengan belahan dada terbuka yang biasa dipakai perempuan Jawa zaman dahulu.

Termasuk lapak atau tempat berjualan memakai lincak bambu sederhana. Wadah-wadah untuk berjualan juga banyak mengadopsi peralatan gerabah tanah liat serta anyaman bambu seperti besek, wakul dan keranjang. 

Sedangkan menu yang dijual juga mengenangkan kita makanan menu tempo dulu berupa jajanan pasar. Ada nasi ampok jagung, nasi tiwul, cenil, rujak uleg, jenang grendul dan dawet ayu. 

Meski begitu juga ada menu masa kini seperti susu kambing etawa, aneka es jus, aneka jenis jenang, krupuk dan srabi. Para penjual yang ada di Pasar Papringan merupakan perwakilan warga dari masing-masing RT yang ada di Desa Jambu. 

Karena berlokasi di bawah papringan,  suasana mengenang masa lalu sangat kental. Di pintu masuk ada sepeda kayuh butut yang biasa dipakai penjual sayuran keliling dengan capil anyaman bambu. 

Pengunjung juga dapat menikmati romansa Pasar Papringan di saung bambu yang berada sekitarnya. Lokasi lain sambil lesehan dengan alas dari tikar pandan. Meski suasana panas, karena berada di bawah pohon bambu tetap terasa sejuk. 

Pengunjung juga dihibur pemusik desa yang menyajikan lagu keroncong dan campur sari. Untuk masuk Pasar Papringan pengunjung harus menukar uang dengan koin senilai Rp 5.000 per orang. Rinciannya, Rp 2.000 untuk masuk dan Rp 3.000 dapat ditukarkan dengan menu yang dijual.

Namun jika nilainya lebih, pengunjung membayar tunai sesuai dengan harganya. Namun harga-harga yang ada di Pasar Papringan sangat terjangkau kantong, karena setiap menu harganya rata-rata di bawah Rp 10.000. 

Sunarti salah satu penjual mengaku omsetnya setiap berjualan di Pasar Papringan cukul lumayan. Karena berjualan pagi sampai siang bisa meraup lebih Rp 500.000. "Kalau hari Minggu biasanya sangat ramai, dagangan laku semua," ungkapnya.

Perekonomian warga sendiri sangat terbantu dengan keberadaan Pasar Papringan. Karena dari puluhan pedagang setiap buka omsetnya bisa mencapai jutaan. 

Lokasi Pasar Papringan ini bersebelagan dengan kebun bibit buah- buahan yang sebelumnya telah dikenal sebagai destinasi wisata selfi. 

Diungkapkan Yanti, pemandu wisata Pasar Papringan, pasar buka mulai jam 8 sampai jam 14.00 WIB. "Pasar Papringan ini dibuka berawal dari kegiatan festival desa wisata Jambu. Karena masyarakat sangat antusias sehingga setiap  Minggu pasarnya dibuka untuk pengunjung," jelasnya.

Antusias pengunjung terlihat dari nilai transaksi penghasilan pedagang. "Jualan gethuk saja laku lebih dari Rp 500.000. Semua penjual dikelola oleh RT. Tidak ada yang dikelola pribadi," ungkapnya.(didik mashudi)

Ikuti kami di
Editor: Wiwit Purwanto
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved