Filosofi Udeng Ksatrian Surya Anagata Bisa Jadi Cikal Bakal Udeng Khas Surabaya

Miliki Banyak Filosofi, Udeng Ksatrian Surya Anagata Bisa Dijadikan Cikal Bakal Udeng Khas Surabaya

Editor: Wiwit Purwanto
Suryatravel/ahmad Zaimul haq
Tommy Priyo Pratomo dan Adi Candra memperagakan cara penggunaan Udeng Ksatrian Surya Anagata untuk item fashion harian. 

Bentuk ikatan pada udeng yang dibuatnya tak akan sama dengan udeng dari daerah lain. Hal itu kemudian membuat Tommy percaya udeng ini akan banyak diminati milenial.

Tommy yakin, ketertarikan milenial dengan suatu hal yang bersejarah sebenarnya masih ada. Hal itu akan terlihat ketika mereka mulai bertanya-tanya tentang sesuatu bersejarah tersebut.

“Udeng saya ini sering dibawa oleh teman-teman saat acara-acara yang banyak dihadiri oleh tamu dari luar negeri ataupun milenial. Dari situ, banyak yang mulai bertanya hingga mengaku ingin mencoba udeng tersebut,” paparnya.

Baik secara general maupun spesifik, bentuk yang dimiliki oleh Udeng Ksatrian Surya Anagata ini dianggap tak lazim.

Apabila udeng di Jawa, Bali, Sunda, dan Ponorogo memiliki bentuk kotak maupun segitiga, sementara Ksatrian Surya Anagata memiliki bentuk memanjang dan identik dengan budaya Timur Tengah juga Afrika.

Meskipun bentuknya memiliki kesamaan dengan budaya Timur Tengah ataupun Afrika, namun Tommy mencoba mencari makna filosofi dari itu untuk disesuaikan dengan tradisi khas Surabaya.

Trinitas merupakan bentuk umum yang dimiliki oleh setiap udeng, namun pada Ksatrian Surya Anagata memiliki simbol seperti doa lantaran bentuknya yang menghadap ke atas.

Dalam udeng Ksatrian Surya Anagata memiliki empat ikatan memanjang yang berarti mudeng atau mengerti arti kehidupan, tentang dirinya, juga apa yang menjadi tujuan.

Empat ikatan dalam udeng Ksatrian Surya Anagata juga diartikan sebagai kebulatan tekad, fokus, tutur kata, dan perilaku yang semuanya dimulai dari hati.

“Penggalian arti filosofi itu erat kaitannya dengan budaya Jawa, khususnya di Surabaya. Karya yang saya buat memiliki unsur tradisi, maka saya tidak bisa meninggalkan filosofi atau makna dari udeng itu sendiri,” ujarnya.

Sumber: Surya
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved