Filosofi Udeng Ksatrian Surya Anagata Bisa Jadi Cikal Bakal Udeng Khas Surabaya

Miliki Banyak Filosofi, Udeng Ksatrian Surya Anagata Bisa Dijadikan Cikal Bakal Udeng Khas Surabaya

Editor: Wiwit Purwanto
Suryatravel/ahmad Zaimul haq
Tommy Priyo Pratomo dan Adi Candra memperagakan cara penggunaan Udeng Ksatrian Surya Anagata untuk item fashion harian. 

Dalam Udeng Ksatrian Surya Anagata juga memiliki simbol junjung derajat yang diharapkan dapat menaikkan derajat pemakainya.

Setelah kain diikatkan di kepala, kemudian terbentuklah dua sisi yakni, kanan dan kiri. Sisi itu kemudian dibawa ke bagian depan, dengan menempatkan sisi kanan pada bagian atas dan kiri di bawah.

Bentuk ini memiliki arti bahwa memberi lebih baik daripada menerima.

“Karena milenial dikenal dengan sifat kritisnya, maka saya memang sengaja membuat udeng ini pernuh makna filosofis. Jadi tak hanya sekadar mengejar sisi estetikanya, namun juga bermakna,” katanya.

Pada bagian depan udeng, terdapat dua ikatan yang disimbolkan sebagai janji pengguna udeng pada dirinya sendiri dan juga Tuhan.

Dari ikatan tersebut, kembali menghasilkan dua sisi kain yang dianggap sebagai simbol keadilan.

Tak hanya itu, saya sempat mempelajari tentang kearifan lokal, yang udeng buatan saya itu bisa juga disimbolkan sebagai mata garuda.

Kenapa mata garuda? Karena bentuknya memang mirip, juga filosofi ini saya ambil agar pengguna udeng ini menjadi orang yang bijaksana terutama dalam memandang suatu masalah, seperti burung garuda.

Selain burung garuda, Tommy juga mengklaim udeng buatannya memiliki bentuk seperti Ayam Jantan Sawunggaling yang merupakan simbol budaya asli Surabaya.

Udeng Ksatrian Surya Anagata memiliki motif dan pakem yang tak berbeda jauh dengan udeng yang dipakai untuk Cak dan Ning. (Akira Tandika)

Sumber: Surya
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved