Kendang Jimbe Buatan Blitar Tetap Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

perajin kendang jimbe di Kelurahan Sentul, Kota Blitar. Sudah sepakan ini, ia memproduksi kembali kerajinan kendang jimbe

suryatravel/samsul hadi
Perajin kendang jimbe di Blitar mulai lagi aktifitasnya setelah berhenti karena pandemi Covid-19 

SURYATRAVEL.COM, BLITAR - Bisnis kerajinan kendang jimbe di Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, berlahan bangkit kembali setelah mandek beberapa bulan akibat pandemi Covid-19.

Sebagian perajin mulai berproduksi lagi meski jumlahnya tidak sebanyak dulu. Pesanan dari pembeli mulai masuk seiring adaptasi kehidupan baru di masa pandemi Covid-19.

Sugeng Hariyanto (37), salah satu perajin kendang jimbe di Kelurahan Sentul, Kota Blitar. Sudah sepakan ini, ia memproduksi kembali kerajinan kendang jimbe di rumahnya setelah berhenti produksi sejak Februari 2020.

"Setelah penerapan new normal, saya mulai produksi lagi meski kapasitasnya tidak banyak. Sudah ada orderan dari pembeli," kata Sugeng, Rabu (22/7/2020).

Sugeng memproduksi kendang jimbe hanya sesuai orderan. Dia belum berani menyetok kendang jimbe dalam jumlah banyak, karena kondisi pasar masih belum sepenuhnya stabil.

"Belum berani nyetok, hanya produksi sesuai orderan. Uangnya biar berputar dulu, tidak berhenti jadi barang. Pekerjanya juga lima orang, itupun tidak masuk tiap hari," ujarnya.

Kondisi produksi kendang jimbe di tempat Sugeng itu jauh berbeda sebelum terjadi pandemi Covid-19. Saat kondisi normal, Sugeng bisa memproduksi 600 biji kendang jimbe dalam sepekan. Jumlah pekerjanya juga mencapai 50 orang.

Untuk pasar, saat ini, Sugeng lebih menyasar di pasar lokal dalam negeri. Menurutnya, jumlah pesanan di pasar lokal tidak banyak, rata-rata di bawah 100 biji. "Yang penting jalan dulu untuk makan," katanya.

Ekspor ke Cina, Sugeng masih belum berani mengambil. Harga jual ekspor kendang jimbe ke Cina anjlok akibat dampak pandemi Covid-19. Untuk sementara, dia memilih tidak mengirim barang ke Cina. Padahal, selam ini, para perajin mengandalkan penjualan kendang jimbe ke Cina. 

"Harga jual ke Cina anjlok, harga kendang jimbe ukuran 60 cm yang sebelumnya Rp 190.200, sekarang buyer hanya berani beli dengan harga Rp 165.000. Saat ini, buyer di Cina punya bargaining menurunkan harga dengan alasan dampak pandemi Covid-19," katanya.

Tapi, Sugeng tetap berusaha mencari pasar di luar negeri. Dia sudah mendapat pesanan kendang jimbe dari Vietnam, hanya saja jumlahnya tidak banyak, sekitar 100 biji.

"Ada pesanan dari Vietnam, tapi hanya 100 biji. Kalau kirim ke Cina, saya berhenti dulu. Karena dari segi harga, saya sudah kalah," ujarnya.

Sugeng merasa bersyukur karena masih bisa menjalankan bisnis kerajinan kendang jimbe. Karena, menurutnya, sebagian perajin lain sudah gulung tikar bahkan ada yang beralih profesi setelah terdampak pandemi Covid-19.

"Di Blitar Raya, ada sekitar 100 perajin, sekarang yang bertahan sekitar tujuh sampai 12 orang. Lainnya gulung tikar, ada juga yang alih profesi berternak ikan koi. Kalau saya masih bertahan dengan kerajinan ini," katanya. (samsul hadi)

Sugeng Hariyanto perajin kendang jimbe di rumahnya, Kelurahan Sentul, Kota Blitar.

Ikuti kami di
Editor: Wiwit Purwanto
Sumber: Surya
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved