Tradisi Siraman Sedudo Jadi Awal Kegiatan Wisata Seni Budaya Di Nganjuk

tradisi siraman sedudo Kegiatan pelestarian budaya tradisi ritual ini turun temurun bagi masyarakat di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan, Nganjuk,

suryatravel/amru muiz
Tradisi siraman Sedudo melestarikan budaya dan jadi salah satu kegiatan menarik wisatawan 

SURYATRAVEL.COM, NGANJUK - Kegiatan budaya tradisi siraman sedudo menjadi gelaran rutin yang diselenggarakan Pemkab Nganjuk.

Kegiatan pelestarian budaya tradisi ritual ini  turun temurun bagi masyarakat di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan, Nganjuk, sekaligus mempromosikan obyek wisata andalan.

Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidhayat menjelaskan, kegiatan budaya tradisi sedudo berupa tradisi sedekah bumi dan prosesi upacara pengambilan air suci dari air terjun sedudo.

Hanya saja, gelaran budaya tradisi siraman sedudo kali ini digelar berbeda ditengah pandemi Covid-19. Kegiatan tetap mematuhi protokol kesehatan, seluruh pihak yang terlibat baik penari, sepuluh gadis berambut panjang, tamu undangan, panitia pelaksana, dan  semua yang hadir diwajibkan memakai masker.

"Meski demikian, kegiatan tradisi siraman sedudo yang digelar di tengah Pandemi Covid-19 ini tetap khidmat tanpa mengurangi kesakralan dari kegiatan yang digelar setiap bulan Asyura," kata Novi Rahman Hidhayat usai gelaran tradisi siraman Sedudo.

Dijelaskan Novi tradisi siraman Sedudo sendiri sudah berlangsung sejak zaman Majapahit. Saat itu pengambilan air dari terjun Sedudo digunakan untuk mensucikan Patung Prana Prathista.

Selanjutnya air terjun Sedudo juga digunakan untuk mensucikan pusaka-pusaka yang dimiliki masyarakat Desa Ngliman. "Tradisi itu juga bisa disebut sebagai ritual Prana Prathista," ucap Novi Rahman Hidhayat.

Menurutnya air terjun Sedudo hingga sekarang ini juga diyakini memiliki kekuatan supranatural yang berkhasiat, diantaranya dapat menyembuhkan beberapa penyakit, menjadikan awet muda termasuk memudahkan mendapat jodoh dan keturunan.

Dengan cara mandi langsung di air terjun Sedudo. Apalagi bila itu dilakukan pada bulan Asyura seperti sekarang ini.

Untuk itulahPemkab Nganjuk menganggap penting tradisi tersebut untuk dilestarikan, sekaligus sebagai upaya dalam mendukung pengembangan obyek kepariwisataan di Kabupaten Nganjuk.

Hal itupun selaras dengan rencana Pemerintah Pusat yang akan membangun proyek Selingkar Wilis, sehingga empat sampai lima Kabupaten di sekeliling gunung Wilis akan dapat terhubung dengan mudah.

Apalagi, menurut Novi Rahman Hidhayat, seluruh potensi wisata alam maupun cagar budaya banyak tersebar pada sekeliling lereng gunung Wilis.

Dan Kabupaten Nganjuk akan mengambil langkah awal untuk menyambut program pembangunan proyek Selingkar Wilis dengan menyiapkan berbagai hal.

Diantaranya untuk pengembangan obyek wisata baru yang mengarahkan kepada peningkatan aspek ekonomi kerakyatan dengan terbangunya saran infrastruktur yang ada. (Achmad Amru Muiz)

Ikuti kami di
Editor: Wiwit Purwanto
Sumber: Surya
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved