Jelajah Surabaya

Koppid'02, Komunitas Pecinta Burung Perkutut Bentukan Warga RW 2 Kelurahan Keputran Surabaya

Warga RW 02 kelurahan Keputran, Surabaya, membentuk komunitas pecinta burung Perkutut. Semua anggotanya pun adalah warga setempat.

Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/habibur rohman
Suasana kampung Dinoyo Tangsi Gg 1 (RW-2) Kelurahan Keputran Surabaya. Di tempat ini telah terbentuk komunitas pecinta burung perkutut yang diberi nama Koppid'02 

SURYATRAVEL, SURABAYA - Kicauan burung  perkutut akan langsung terdengar saat siapapun memasuki kawasan RW 2 Kelurahan Keputran, Surabaya.

Di bawah cahaya matahari yang hangat, burung-burung itu ditempatkan pada gantangan di tengah permukiman warga.

Warga di sini, utamanya bapak-bapak memang banyak yang hobi memelihara hewan eksotik bersuara merdu ini.

Melihat meningkatnya penghobi baru, warga pun berinisiatif untuk membuat kelompok bernama Komunitas Pecinta Perkutut Dinoyo RW 2 atau Koppid'02.

"Komunitas ini baru ada sejak 2020, melihat banyaknya warga yang suka memelihara perkutut. Awalnya, warga memelihara sendiri-sendiri lalu sekarang menjadi komunitas," ungkap Ketua RW 2 Kelurahan Keputran, Dedy Kurniawan.

Setidaknya terdapat 60 perkutut. Setiap minggu, perkutut ini akan dilatih dengan cara dikumpulkan pada gentangan yang berada di dalam gang.

"Ini biar mental burungnya jadi bagus, kalau berkicau jadi berani. Kalau ada perlombaan, dia bisa menang," katanya.

Tidak hanya itu, menurut Dedi, burung perkutut juga mengeluarkan suara kicauan yang menenangkan dan mendinginkan pikiran.

Ketua Koppid'02, Slamet Nugroho menambahkan, komunitas ini bisa menjadi ajang untuk berbagi ilmu, pengalaman, serta informasi.

"Komunitas ini dibentuk supaya warga bisa saling sharing. Kalau memelihara sendiri kan kurang nanti pengetahuannya. Sedangkan kalau ada komunitas ini, bisa saling tukar informasi dari yang lain," ia menerangkan.

Ke depan, ia berharap komunitas ini bisa berkembang sehingga menjadi budidaya perkutut.

"Di sini kami saling mendukung. Kalau yang satu ikut lomba, yang lain pasti sebagai supporter. Bisa kenalan sama komunitas yang lainnya juga," ungkap Slamet.

Pakan Perkutut

Bahkan, komunitas yang kini beranggotakan 30 orang ini mulai merambah dunia UMKM. Mereka sudah mulai membuat makanan perkutut dengan label Koppid'02.

"Jadi kami membuat pakan burung perkutut. Biasanya kalau ketemu komunitas lain kami tawarkan," tandasnya.

Menurut pecinta budaya dan sejarah Surabaya, Tommy Priyo Pratomo, perkutut bisa menjadi ikon baru RW 2 Keputran ini.

"Ini menjadi salah satu bukti bahwa pelestarian kearifan Jawa di Surabaya tetap lestari. Memelihara perkutut merupakan tradisi turun temurun dalam budaya Jawa," katanya.

Hal ini kaya makna dan falsafah kehidupan luhur. Menurut Tommy, ini sudah diyakini sejak era Majapahit.

"Di kampung ini, perkutut diletakkan di tempat yang khusus. Mampu menambah suasana damai. Terbukti mampu mempererat tali silaturahmi di antara penggemarnya," tandasnya.

Selain pecinta perkutut, juga ada komunitas lain di RW 2 Kelurahan Keputran, seperti bermain catur, senam sehat, dan sebagainya.(christine ayu)
 

--

Sumber: Surya
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved