Refreshing Edukatif Bersama Anak di Sidoarjo, Jangan Lupa Mampir ke Museum Mpu Tantular

Ingin weekend bersama anak lebih edukatif dan bermanfaat, coba kunjungi Museum Mpu Tantular di Sidoarjo.

Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com
Sejumlah pelajar mengunjungi Museum Mpu Tantular di Sidoarjo. Foto diambil sebelum masa pandemi covid-19 

SURYATRAVEL, SIDOARJO – Pariwisiata di Sidoarjo mungkin tak setenar kota di sekitarnya seperti Surabaya, Mojokerto ataupun Malang.

Namun kabupaten berjuluk Kota Delta ini tetap memiliki sejumlah potensi wisata, baik wisata alam, budaya, sejarah, maupun wisata kuliner. 

Misalnya geopark lumpur Sidoarjo, Candi Pari, wisata Pulau Lusi, wisata belanja di Tanggulangin dan Museum Mpu Tantular.

Dari sekian banyak destinasi wisata Sidoarjo, salah satu yang layak dikunjungi saat weekend bersama anak-anak adalah Museum Mpu Tantular

Museum Negeri Mpu Tantular yang ada di Buduran Sidaoarjo, adalah kelanjutan dari Stedelijh Historisch Museum Surabaya, yang didirikan oleh Godfried Hariowald Von Faber tahun 1933 di Surabaya.

Museum ini awalnya hanya memamerkan koleksinya di ruang kecil di Readhuis Ketabang atau di daerah Ketabang Surabaya. Selanjutnya oleh seorang yang bernama Han Tjong King, museum dipindahkan ke Jalan Tegalsari yang memiliki bangunan lebih luas.

Seiring perjalanan waktu, masyarakat pemerhati museum berinisiatif untuk memindahkan museum ke lokasi yang lebih memadai yakni di Jalan Pemuda No. 3 Surabaya dan  diresmikan pada tanggal 25 Juni 1937.

Sepeninggal Von Faber, museum dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum bersama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Museum dibuka umum pada tanggal 23 Mei 1972 dengan nama Museum Jawa Timur.  

Selanjutnya 13 Februari 1974 museum berubah status menjadi museum negeri, yang diresmikan pada tanggal 1 November 1974 dengan nama Museum Negeri Propinsi Jawa Timur.

Dengan bertambahnya koleksi, museum membutuhkan area yang lebih luas, hingga akhirnya pada tanggal  12 Agustus 1977, secara resmi museum menempati lokasi baru, di Jalan Taman Mayangkara No.6 Surabaya. 

Semakin bertambahnya usia, koleksi museum semakin bertambah, demikian juga banyaknya kegiatan edukatif kultural yang di laksanakan di museum. Sehingga membutuhkan lokasi yang lebih luas, akhirnya tanggal 14 Mei 2004 museum kembali diresmikan menempati lahan baru di Sidoarjo, di Jalan Raya Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

Di museum ini pengunjung dapat melihat langsung benda benda bersejarah dari berbagai jaman. Dimuseum ini juga terdapat dua jenis koleksi yakni koleksi indoor dan outdoor.  Beberapa koleksi unggulan Museum Mpu Tantular misalnya  sepeda kayu.

Sepeda kayu  di museum ini merupakan bentuk sepeda yang paling tua diciptakan oleh Michael Kesler seorang berkebangsaan Jerman pada tahun 1766.

Serta hiasan Garudeya, yang ditemukan pada tahun 1989, di Desa Plaosan, Kecamatan  Wates, Kabupaten  Kediri. Hiasan ini dibuat dari emas 22 karat dengan berat keseluruhan 1.163.09 gram. Dilihat dari reliefnya, diperkirakan hiasan ini merupakan peninggalan dari abad XII-XIII M. Benda ini merupakan cindera mata dari Raja Siam kepada Raja Airlangga.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved