Hotel Gantung Purwakarta, Tujuan Wisata Antimainstream

Sylvi Mutiara menjajal menginap di hotel gantung Purwakarta, Jawa Barat. Simak, beginilah keseruannya memanjat tebing demi mencapai kamarnya

Penulis: Akira Tandika
Editor: eben haezer
ist/kompas travel
Fasilitas kamar hotel gantung Padjajaran Anyar yang terletak di tebing Gunung Parang, Purwakarta, Jawa Barat setinggi 500 meter, Minggu (19/11/2017). Hotel gantung ini diklaim sebagai hotel gantung tertinggi di dunia mengalahkan ketinggian hotel gantung di Peru. (KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO) 

SURYATRAVEL, SURABAYA - Sylvi Mutiara sekeluarga merupakan tipikal yang tiap kali bepergian, tujuannya adalah tempat antimainstream. Alasannya, tidak banyak orang tahu tempat tersebut, sehingga terasa lebih eksklusif.

Sama seperti traveller lainnya, Sylvi juga mencari beberapa informasi sebelum berangkat. Terlebih, tempat yang akan ia tinggali ini tergolong unik dan tidak ada tandingannya selain di Peru.

"Waktu itu perjalanan dari bandara ke Purwakarta menempuh waktu sekitar 5 jam. Itu pun karena macet. Sampai lokasi, kami sekeluarga sudah sangat lelah. Tapi perjalanan nggak hanya sampai di situ. Kami masih harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa sampai ke kamar yang lokasinya berada di ketinggian 500 meter," jelasnya dalam Segmen Traveling TribunJatim Network, Senin (19/10/2020).

Sylvi menceritakan, saat itu anaknya hampir tidak mau ikut naik karena merasa ketakutan. Namun, sang anak lebih takut jika harus ditinggal sendirian di basecamp karena Sylvi dan suami tetap melanjutkan perjalanan ke kamar.

Ketinggian 500 meter ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 hingga 3 jam. Waktu tersebut sangat wajar dengan kondisi track yang lumayan licin karena gerimis, juga karena Sylvi membawa serta anaknya yang belum berpengalaman memanjat tebing.

"Kami juga menyempatkan diri untuk beristirahat sebentar di pos penanjakan 250 meter. Itu satu-satunya tempat istirahat sebelum menuju ke kamar. Jadi harus dimanfaatkan dengan baik," tutur ibu dua orang anak itu.

Perjuangan tidak berhenti sampai di situ. Setelah sampai di puncak, Sylvi harus bersusah payah kembali menuju ke kamar tempat ia tinggal.

Memang tidak memanjat lagi, tapi Sylvi harus menyeberang dari titik dia berhenti menuju kamar dengan seutas tali.

"Perjalanan suami dan anak saya lancar. Giliran saya, karena salah pijakan, akhirnya tergelincir yang membuat tubuh saya kemudian terbentur ke tebing," ungkapnya.

Meski begitu, perjuangan dari memanjat hingga terbentur tebing semuanya terbayar ketika ia sampai ke kamar. Dari ketinggian tersebut, Sylvi bisa melihat suguhan alam yang begitu elok.

Tidak hanya satu, hampir seluruh arah bisa dilihat oleh Sylvy lantaran dinding kamar yang terbuat dari kaca bening, memungkinkannya melihat dari segala sisi.

Hadiah lain yang ia dapat saat menginap di Hotel Gantung tersebut adalah pemandangan sunset, sunrise, dan taburan bintang-bintang di langit terlihat begitu nyata.

"Tidak ada penghalang bagi kami untuk melihat keindahan tersebut. Semua kami saksikan dengan mata telanjang dan rasa takjub yang luar biasa," pungkasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved