Sambal Kemasan Praktis Makin Jadi Tren, Rasa Original Masih Jadi Andalan

Sambal kemasan praktis semakin menjadi tren. Alam Bagus pun tak ragu membuka usaha sambal rumahan Sambel Yoiki Cak Yuk Yum

Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/Sugiharto
Owner Sambel Yoiki Cap Yuk Yum, Alam Bagus, saat memperlihatkan sambal kemasan buatannya 

SURYATRAVEL, SURABAYA - Sambel merupakan kuliner khas Nusantara yang memilki jenis beragam. Selain itu, bagi banyak orang di Indonesia, acara makan kurang lengkap apabila tanpa sambal. 

Saat ini, sambal pun banyak dikemas dalam kemasan praktis sehingga mudah dibawa ke mana-mana. 

"Sekarang yang musim sambal kekinian ya. Seperti sambal baby cumi dan sebagainya," ungkap pelaku usaha kuliner, Alam Bagus.

Dari berbagai jenis sambal, menurutnya sambal dengan rasa original masih menjadi primadona. Hal ini pun mendorongnya untuk membuka usaha sambal rumahan Sambel Yoiki Cap Yuk Yum.

"Saya menawarkan tiga varian sambil basic alias sambal jadul. Kami memang melawan arus tren sambal saat ini. Saya ada sambal bawang, sambal tomat, dan sambal terasi," kata Bagus, sapaan akrabnya.

Ia mengklaim produknya benar-benar fresh dan bebas dari bahan pengawet. Membuatnya pun masih dengan cara diuleg tanpa bantuan mesin giling. Hal ini untuk mempertahankan cita rasa sambal yang otentik.

"Bumbunya benar-benar alami. Selain itu juga tidak terlalu banyak minyak. Bagi sejumlah pecinta sambal, terlalu banyak minyak ini bisa jadi masalah," katanya.

Ia memilih sambal karena dinilai cocok dan terus digemari oleh masyarakat utamanya warga Surabaya. Banyak orang yang tidak punya cukup waktu untuk ngulek sambal.

"Akhirnya saya bikin sambal dengan kemasan (jar) yang mudah dibawa dan disimpan. Selain itu juga ada kemasan sekali makan, lebih mudah kalau mau dibuat bekal ke kantor misalnya," ia mengungkapkan.

Sambal buatannya ini bisa awet tiga sampai empat hari di suhu ruang dan bisa sampai tujuh hari jika disimpan di dalam kulkas.

"Kemasannya 150 gram dengan harga jual 20 ribu. Sejauh ini saya jual by order," imbuh Bagus.

Menurutnya, sambal memang item kuliner yang terus eksis dari waktu ke waktu. Tak ayal jika usaha ini cukup menjanjikan apalagi di masa pandemi seperti ini.

"Sambal ini kuliner warisan. Artinya, orang-orang di sini emang suka pedas. Menurut saya, sambal juga menjanjikan di pasar internasional. Salah satu makanan yang menduduki klaster atas di samping rendang dan nasi goreng," tandasnya.

Menurut Luthfi Nurzaman dari Komunitas FGB sekaligus ketua pelaksana Ekonomi Kreatif dan Inovasi 2020, Jawa Timur memang surganya kuliner.

"Saat pandemi seperti ini para produsen handicraft dan fashion pun banting setir jadi pengusaha kuliner," ungkapnya.

Untuk mengembangkannya, ia berpendapat tidak cukup jika hanya mengandalkan pemerintah.

"Problem yang dihadapi oleh pelaku UMKM ini ada modal, pemasaran, dan produksi. Modal akan datang sendiri jika ada calon investor yang pesan. Kuncinya menurut saya ada di pemasaran," pungkasnya. (christine ayu)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved