Cerita Traveler

Melihat Puncak Gunung Arjuno dari Budug Asu, Tiket Rp 10 Ribu Bonus Tarik Tambang Alami

Main ke Budug Asu memberikan kepuasan tersendiri karena bisa bercanda dengan alam dengan tiket yang murah.

Editor: eben haezer
ist
Perjalanan ke budug Asu dengan bantuan tali tambang untuk menaiki jalur yang curam 

SURYATRAVEL, SURABAYA - Main ke Budug Asu memberikan kepuasan tersendiri karena bisa bercanda dengan alam dengan tiket yang murah.

Kendaraan berhenti di pos bukit Buduk Asu yang ada di bawah. Itu berada di ketinggian 1.240 mdpl. Setelah membeli tiket masuk seharga Rp 10.000 per orang, mulailah menapakkan kaki naik.

Di awal melangkah, jalan naiknya masih baik-baik saja, hingga terdapat tali yang dipasang untuk membantu naik.

Ada apa ini?

Ternyata jalan mulai menanjak dengan kemiringan sekitar 70-80 derajat. Baiklah, berjalan setapak demi setapak naik sambil berpegangan tali dengan tenang.

Namun, ternyata untuk mendapatkan pijakan kaki semakin sulit. Baru sadar sumber ketidaknyamanan itu adalah sepatu. Sepatu yang dipakai adalah sepatu kota yang tentu saja sangat tidak sesuai untuk naik gunung. Menyadari kondisi sepatu malah meciptakan pikiran tidak percaya diri.

Bila tidak meneruskan perjalanan, lalu turun, bahaya juga karena bisa terpeleset. Satu-satunya jalan ya tetap merangkak naik. Happy, salah satu pengunjung, meminta untuk tetap bersemangat naik. Jalan turun akan lewat jalan lainnya yang lebih landai.

Sampai akhirnya, tali yang dipasang sudah tidak ada lagi. Saat melihat ke atas bukit ada bendera merah putih. Artinya lagi, hampir tiba di puncak bukit.

Lega melihat tidak ada tali yang menjadi tarik tambang alami dengan alam. Bukankah itu berarti jalan sudah aman. Namun, ternyata kesulitan tetap sama dan bahkan lebih, karena tidak ada lagi tali yang bisa dijadikan pegangan. Untungnya ada banyak kupu kecil berwarna kuning yang beterbangan, menjadi penghibur hati.

Penghibur hati lainnya, Happy rela menjadi pahlawan bagi para emak. Ia mencarikan pijakan kaki yang aman dan beberapa kali membuat pijakan dengan tongkat kayu kopi yang dibawanya. Lalu, Happy menarik tangan satu per satu, hingga tiba di puncak bukit yang berada di ketinggian 1.400 mdpl.

Lega rasanya. Duduk sejenak menenangkan hati dan pikiran, sambil menikmati indahnya pemandangan yang terhampar. Langit biru. Pepohonan berdaun hijau berserak di lereng bukit. Terdengar kicau burung dan nyanyian garengpung atau tonggeret.

Puncak Gunung Arjuno tampak sangat dekat. Lekuk tubuhnya terlihat sangat seksi. Sirna sudah capai kaki dan tangan. Kebahagiaan ganti mengisi relung hati. Itu saatnya berfoto keluarga di puncak bukit Buduk Asu yang luas.

Meski enggan pulang, ya harus pulang juga. Jalan lain yang lebih landai dilalui. Sebuah pondok terlihat, pos Buduk Asu yang ada di atas. Di depan pos terlihat sebuah mobil putih dan beberapa motor trail. Banyak wisatawan yang datang dengan naik kendaraan 4x4 dan motor trail.

Ternyata mudah sekali naik ke puncak bukit Buduk Asu dengan cara berkendara. Mengapa harus bersusah payah merayap melalui jalan yang sulit selama 1 jam? Setelah menertawakan kebodohan, akhirnya mensyukuri. Karena jalan sulit yang telah dilewati, memberikan kebahagiaan luar biasa dan kenangan tak terlupakan.

Di jalan turun yang cukup ditempuh 45 menit, terkadang harus berbagi dengan motor trail dan mobil 4x4. Inilah hidup. Dinikmati saja. Semua orang ingin berhabagia.

Sesampai di pos bukit Buduk Asu yang ada di bawah, tempat mobil diparkir, semua beristirahat sebentar lalu meneruskan perjalanan ke kebun jeruk. Perut sudah lapar lagi setelah energi dikuras. Menunya mi rebus atau mi goreng dan kopi rempah tanpa gula. Kopi yang disuguhkan adalah kopi robusta yang tumbuh di lereng Gunung Arjuna.

Selanjutnya kembali ke Desa Sumberawan untuk berganti mobil. Dalam perjalanan, ada bonus melihat matahari terbenam. Warna jingga yang muncul di balik pepohonan, terlihat sangat indah.

Menikmati keindahan salah satu sisi lereng Gunung Arjuna telah usai. Perjalanan sehari rasanya kurang, karena masih ada beberapa tempat lainnya yang belum dikunjungi. Suatu saat nanti akan melakukan lagi ke tempat yang lebih tinggi di dekat bukit Buduk Asu, yaitu bukit Lincing. Itu bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan 4x4 menikmati offroad tipis-tipis.

Baca juga: Kemping Cantik Tanpa Repot di Budug Asu

Penulis:  Yoni Astuti, pemandu wisata anggota DPC HPI Surabaya

Tags
Budug Asu
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved