Sawah Rojo Art Farming di Kota Batu, Perpaduan Lahan Pertanian, Teknologi, dan Seni

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko meresmikan Sawah Rojo Art Farming, sebua konsep pertanian yang mengombinasikan teknologi dan seni.

Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/benni indo
Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko saat menanam sayur di lahan tempat diresmikannya Sawah Rojo Art Farming, Minggu (8/11/2020). 

SURYATRAVEL, KOTA BATU - Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko meresmikan Sawah Rojo Art Farming, sebua konsep pertanian yang mengombinasikan teknologi dan seni. 

Saat meresmikan, Dewanti juga ikut menanam perdana bibit sayur di lahan Sawah Rojo Art Farming.

Art Farming merupakan konsep pertanian dengan sistem sewa lahan petani dan dikelola oleh petani setempat hingga panen. Hasil panen sepenuhnya akan dikirim ke penyewa lahan. Dewanti mengatakan, regenerasi petani dari kalangan milenial menjadi peluang bagi Sawah Rojo untuk menyasar CSR dari perusahaan BUMN.

"CSR dari BUMN mencari pertanian yang digerakkan kaum milenial. Paling tidak ada keterlibatan 30 persen generasi milenial. Kuota para milenial yang kreatif sangat melimpah di Kota Batu," kata Dewanti, Minggu (8/11/2020).

Di hadapan pengelola Sawah Rojo Art Farming, ia membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Furusato Indonesia, Bumiaji pada Jumat lalu (6/11/2020). Dewanti menawarkan agar Sawah Rojo bisa berkolaborasi mengembangkan budidaya pertanian dengan Furusato. Sehingga Sawah Rojo bisa menimba ilmu teknik pertanian ramah lingkungan seperti yang dikembangkan di Jepang.

"Teknik pertanian dari hulu hilir yang diterapkan di Furusato berstandar Jepang karena menyasar pasar orang Jepang yang ada di Indonesia. Saya ingin agar Sawah Rojo menjalin mitra agar produk pertanian bermutu internasional bisa menembus pasar dunia," papar Dewanti.

Founder Sawah Rojo, Herman Aga mengatakan, manajemen lahan pertanian yang dikembangkan di Sawah Rojo yakni menawarkan paket edukasi dan pengalaman bercocok tanam kepada masyarakat maupun wisatawan.

"Seperti menanam bibit, merawat lahan hingga memanen hasil pertanian pada lahan hamparan seluas 4000 meter," imbuh Herman.

Sawah Rojo Art Farming merupakan manajemen pengelola lahan petani yang menawarkan kepada masyarakat luas dan wisatawan berkunjung ke Kota Batu. Wisatawan akan mendapatkan kegiatan edukasi dan pengalaman bercocok tanam seperti menanam bibit, merawat lahan hingga memanen hasil pertanian.

Manajemen menerapkan sistem keanggotaan “Sewa Kelola Lahan” dengan berbagai paket ukuran lahan yaitu luas 50 meter persegi dengan harga sewa Rp 3 juta dan luas 100 meter persegi dengan harga sewa Rp 5 juta dengan masa sewa selama tiga bulan. Selama masa sewa sudah dihasilkan sayuran dan buah-buahan siap panen dan sepenuhnya adalah hak para anggota.

Dengan harga paket sewa kelola lahan tersebut para anggota sudah mendapatkan fasilitas perawatan lahan selama tiga bulan. Tersedia 27 lebih varian tanaman seperti varian tomat, varian cabe, varian wortel, varian jagung,  paprika, kacang panjang, terong ungu, okra, padi merah, kubis, pacoi, kailan, andewi, slada krop dan masih banyak lagi dan tentunya sangat menyehatkan tubuh bila dikonsumsi, dan khusus para anggota berhak mendaptan makan siang gratis ala desa setiap bulannya.

Konsep sewa kelola lahan ini sebagai alternatif solusi bagi permasalahan petani saat ini. Saat panen raya tiba, harga hasil pertanian anjlok. Melalui program sawah rojo diharapkan ada kepastian bayar di muka dari para anggota yang menjadikan aktivitas berkebun sebagai rekreasi keluarga.

“Tidak adanya akses pasar langsug ke konsumen, alias banyak tengkulak yang mempermainkan harga juga menjadi problem petani ketika menjual hasil panennya, petani tidak mempunyai posisi tawar yang baik, namun dengan para member Sawah Rojo Art Farming yang bersedia membayar paket sewa kelola lahan di depan menjadikan petani sedikit bernafas lega,” ujar Herman, Minggu (8/11/2020).

Para anggota yang hadir tentunya akan membawa jejaring baru bagi petani. Sangat dimungkinkan adanya peluang kerjasama lebih jauh lagi dengan petani seperti terbukanya akses pasar langsung hingga kerjasama strategis lainnya yang bersifat business to business. Transfer pengetahuan juga akan terjadi secara alamiah, saling tukar pengalaman dan keilmuan antara para anggota dengan petani, baik dalam hal alih teknologi pertanian hingga kisah-kisah kehidupan lainnya.

“Inspirasi dari para anggota yang mempunyai latar belakang beragam profesi itu diharapkan menjadi motivasi bagi petani muda di desa untuk berkarya karena desa adalah tempat mereka dibesarkan. Tidak perlu berkarir ke kota, sebab banyak potensi desa bila dioptimalkan akan menjadi pusat perekonomian yang luar biasa dan tetap ramah lingkungan, menjaga konservasi lahan dan senantiasa mempertahankan kearifan lokal,” tegas Herman. (Benni Indo/adv)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved