Cerita Traveler

Menghabiskan Momen Long Weekend di Salatiga Hingga Jogja

Liburan panjang tak seharusnya disia-siakan. Keluarga Rr Vivi Dinatya misalnya, menghabiskannya dengan menyusuri Ngawi hingga Yogyakarta

Editor: eben haezer
ist/dok.pribadi
Sekeluarga mengendarai ATV di Kopeng Tree Top Adventure Park 

SURYATRAVEL, SALATIGA - Liburan panjang atau long weekend pada momen Maulid Nabi Muhammad SAW kemarin membuat sejumlah warga masyarakat menghabiskan dengan plesir.

Banyak travelers dan pemburu spot cantik yang Instagramable telah merencanakan kepergiannya sejak lama.

Memiliki empat anak yang berbeda tingkatan pendidikan, agak menyulitkan kami untuk menyesuaikan jadwal pergi bersama. Dua anak kuliah, satu SMA dan si bungsu yang masih duduk di kelas 5 SD, sehingga kadang salah satunya harus mengorbankan jadwal, tentu saja setelah memikirkan solusi terbaik.

Lima hari sebelum long weekend, sebetulnya kami telah memesan tiket masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melalui online. Terakhir mengunjungi Bromo adalah setahun yang lalu, sehingga kami ingin menghabiskan liburan di tempat yang sejuk.

Setelah pemesanan dan pembayaran dengan m-banking tuntas, kami menunggu jawaban dari laman pihak berwenang untuk mendapatkan barcode sebagai tanda disetujuinya kedatangan kami sesuai kouta yang tersedia.

Namun sudah dua hari berselang tak ada jawaban meskipun saya sudah berusaha menghubungi contact person Humas bahkan petugas iT website tersebut. Akhirnya kami memutuskan tetap berangkat berlibur meskipun tidak punya tujuan akan ke mana kami hari itu.

Kami berangkat pada Rabu (28/10/2020) siang, setelah sholat dhuhur karena masih menunggu anak pertama saya menyelesaikan kelas daringnya.

Si sulung yang kuliah di negeri seberang tentu saja memiliki kalender libur yang berbeda dengan di tanah air, sehingga ia menyesuaikan dengan adik-adiknya.

Setelah memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi mobil, akhirnya kami berenam berangkat. Kami ikuti saja ke mana mobil minibus kesayangan membawa kami pergi. Hingga ketika masuk tol Sidoarjo, kami mulai berunding hendak melanjutkan ke kota mana.

Mendengar traffic report radio, arah Malang macet total karena padat kendaraan, maka kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat Jawa Timur.

Kami sempat berhenti di rest area tol Jombang-Kertosono untuk sholat azhar dan mengisi angin ban agar stabil untuk perjalanan jauh. Tak lupa menambah saldo E-Toll supaya cukup hingga Jawa Tengah.

Tak terasa langit mulai menampakkan semburat jingga tanda senja akan segera datang. Perjalanan yang sudah ditempuh hampir 300 kilometer ini belum menampakkan ujungnya. Kami putuskan turun di tol Salatiga karena ingin mengistirahatkan kendaraan serta mengisi perut yang sudah mulai meronta minta dimanja.

Sebulan yang lalu saat pulang dari Semarang, kami sempatkan turun Salatiga untuk menikmati kuliner sate suruh dan ronde sekoteng atas rekomendasi seorang teman. Hari itu, kami ingin mengulangi lagi cita rasa daging sapi yang berbalur bumbu kacang manis gurih itu sebagai menu makan malam kami. Sate suruh daging sapi yang kami cari ada di Jl. Jendral Sudirman, komplek ruko Pasaraya, Salatiga.

Menikmati sajian wedang ronde hangat
Menikmati sajian wedang ronde hangat (ist/dok.pribadi)

Jujugan yang tak kalah menggiurkan adalah ronde sekoteng Jago yang ada di belakang warung sate suruh, masih dalam komplek Pasaraya.

Kuah jahe dan santan yang ada dalam tiap mangkoknya sangat memanjakan lidah pecinta wedhang hangat. Uniknya ada taburan manisan jeruk dan rumput laut kering di atasnya. Wajib coba menu ini jika mampir ke Salatiga. Dijamin pasti ketagihan seperti saya ini.

Penginapan Unik

Karena sudah hampir tengah malam, kami memutuskan mencari penginapan di sana. Beberapa aplikasi hotel low budget menyarankan guest house untuk tempat berstirahat kami malam itu.

Pilihan jatuh pada Andongkoe 64 yang terletak di Gang Andong VII Sidorejo tersebut. Awalnya kami memilih karena melihat foto yang ada dalam aplikasi OYO, bagi kami yang terpenting adalah kebersihan dan kenyamanan, toh hanya dipakai semalam untuk beristirahat.

Kesokan harinya, saya baru menyadari betapa uniknya hunian ini. Dari luar tampak seperti bangunan moderen, namun detail interiornya bergaya Jawa kuno lengkap dengan gebyok kayu jati serta cermin besar kuno yang tinggi memanjang di dindingnya.

Penginapan ini semakin menarik karena lantai yang berubin etnik dengan gambar motif kembang kain batik dan lukisan di tembok.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved