Mengunjungi Masjid Ratusan Tahun di Jagir Wonokromo yang Menyimpan Jam Istiwa

Di Surabaya terdapat masjid berusia ratusan tahun yang menjadi simbol syiar Islam. Di masjid ini ada jam istiwa yang tak kalah tua loh

Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/christine ayu
Takmir Masjid Qowiyuddin, Imam Jazuli memperlihatkan jam salat manual yang waktunya disesuaikan dengan jam istiwa. 

SURYATRAVEL, SURABAYA - Syiar Islam di tanah Jawa tidak bisa dilepaskan dari Kota Surabaya. Sejarah mencatat bahwa Islam mulai menyebar pesat di Surabaya pada abad ke-15.

Tak mengherankan, banyak peninggalan peradaban Islam di Surabaya. Bahkan sebagian besar belum diketahui masyarakat luas.

Salah satunya yang berada di kawasan Jagir Wonokromo, tepatnya di RT 3 RW 6 Kelurahan Jagir Surabaya.

Di sana terdapat sebuah masjid berusia ratusan tahun yang masih kokoh. Masih lengkap dengan jam istiwa atau jam matahari yang digunakan untuk menentukan waktu.

"Untuk menentukan waktu masuk sholat, umat Islam di jaman dulu menggunakan cara manual dan hitung," ungkap Sekretaris Takmir Masjid Qowiyuddin Rahmad Hidayat, Senin (21/12/2020).

Cara hitung yang dimaksud yakni menggunakan Ilmu Falak atau Ilmu Hisab. Dilakukan dengan cara mempelajari lintasan benda langit untuk mengetahui waktu. 

"Sedangkan untuk manual menggunakan jam istiwa yang memakai sinar matahari," ia melanjutkan.

Jam istiwa yang dimiliki masjid ini sudah ada sejak sekitar tahun 1900an, berarti sudah lebih dari 100 tahun.

"Jam pandem ini sudah dilengkapi garis-garis penanda waktu. Garisnya menunjukkan lintasan bayangan matahari. Jika bayangan matahari tepat pada garis tengah, berarti tepat jam 12 siang dan menunggu sekitar lima menit tandanya sudah waktunya salat dzuhur," ungkap Takmir Masjid Qowiyuddin Imam Jazuli.

Imam juga membuat jam salat manual yang waktunya disesuaikan dengan jam istiwa.

Jam tersebut terbuat dari seng yang dibentuk lingkaran. Ditulis menggunakan tinta berwarna emas dan dikemas dalam kotak kayu berkaca.

"Ini saya buat pada 14 Agustus 1969 selepas mondok di Tambak Beras Jombang. Waktu itu saya masih 18 tahun," katanya.

Jam ini difungsikan sampai tahun 2005-an. Kemudian masjid berpatok pada zona WIB.

Meski demikian, takmir dan warga tetap merawat dan melestarikanny sebagai salah satu peninggalan yang berharga.

"Jam ini dulu sebagai bagian dari ilmu peradaban Islam untuk menunjukkan waktu salat, hari raya, dan sebagainya," ungkap pecinta budaya dan sejarah Surabaya Tommy Priyo Pratomo.

Menurutnya, masjid tua ini merupakan bangunan bersejarah dan saksi bisu peradaban Islam di Surabaya.

"Alhamdulillah ini sangat luar biasa, karena masjid tidak hanya bagian dari syiar tapi juga sejarah yang harus dilestarikan," pungkasnya.(christine ayu)

Baca juga: Mencicipi Menu Sambelan Belalang Goreng di Dawarblandong Mojokerto, Berani?

Baca juga: Pendatang dan Wisatawan ke Malang Akan Diwajibkan Rapid Test Antigen

Baca juga: Penumpang Kereta Api Jarak Jauh Cukup Pakai Rapit Test Antibodi

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved