Cerita Traveler

Dataran Tinggi Dieng, Tanah Para Dewa

Bagi Fifin Maidarina, Dieng menjadi tempat destinasi yang sangat berkesan. Inilah kisahnya saat berkunjung ke sana September 2020 lalu

Editor: eben haezer
ist
Fifin dan rekannya saat berkunjung ke Dieng 

SURYATRAVEL - Fifin Maidarina, traveler, mengantar dua teman yang ingin berlibur di tempat menarik, terjangkau dengan jalur darat dari Surabaya, dan budget murah. Dieng menjadi pilihan saat September 2020.

Berhubung rombongan kecil bertiga memiliki waktu fleksibel, liburan benar-benar mengalir, tidak dijadwal. Yang penting, berangkat dulu.

Berangkat naik bus dari Terminal Purabaya, Sidoarjo, pukul 20.00. Sampai di Magelang pukul 04.00. Masih ada waktu ke warung kopi sebelum melanjutkan perjalanan dengan bus ke Wonosobo. Bus biasanya ada pukul 05.00. Menurut ibu penjual di warung, sekarang ada bus Surabaya-Wonosobo dan sebaliknya.

Karena ini perjalanan tanpa perencanaan detail, maka tempat penginapan pun baru dipilih selama perjalanan di bus. Dari situ, dipilih Tani Jiwo Hostel. Modelnya seperti hostel di luar negeri, satu kamar terdiri atas beberapa ranjang susun, sehingga cocok banget untuk liburan ramai-ramai.

Setelah energi terisi kembali dan badan lebih segar, perjalanan dilanjutkan kembali dengan bus kecil ke Dieng. Secara administratif, dataran tinggi Dieng ini masuk Kabupaten Banjarnegara. Masih banyak yang mengira atau menuliskannya sebagai Dieng, Wonosobo. Namun, beberapa tempat wisata yang tersebar di daerah Dieng, ada yang masuk di area Banjarnegara, ada yang masuk Wonosobo, karena luasnya potensi wisata di situ.

Kalau semalam tidur selama di bus, sebaiknya tidak untuk pagi ini. Perjalanan ke arah Dieng sungguh cantik. Gunung Sindoro yang gagah menjadi latar pemandangan di balik kaca bus kecil. Buka jendela, rasakan udara segarnya dan nikmati suguhan cuci mata gratis ini.

Lebih kurang satu jam perjalanan, akan tiba di gerbang selamat datang kawasan wisata Dieng. Tani Jiwo Hostel berada di jalan utama yang dilalui bus. Bangunan dengan dominan kaca berlantai tiga, cozy banget tampaknya.

Masuk untuk check in, sayangnya masih terlalu pagi, sehingga belum bisa masuk kamar, namun diizinkan untuk menikmati minuman hangat dan bersantai di kafe terbuka lantai 2. Supaya bisa langsung berkeliling, minta pihak hostel mencarikan sepeda motor sewaan.

Sambil menanti motor tiba, cukup mencuci muka, ngopi, dan menikmati udara sejuk pagi. Tengah hari, dua motor sudah siap menanti. Pria berambut gimbal yang disapa Abah sudah siap di satu motor, siap mengantar sekaligus menjadi guide untuk beberapa hari. Sementara dua teman tandem satu motor.

Berhubung sudah tengah hari, langsung usul untuk makan siang, mi ongklok. Mi berkuah nyemek, sedikit kental berwarna cokelat, dengan potongan sayur dan daging sapi plus sate. Ah, nikmat dan tiada duanya.

Mengunjungi Arjuna

Karena tinggal setengah hari, yang dikunjungi yang dekat-dekat saja, seperti kompleks Candi Dieng. Di dalamnya, terdapat beberapa candi, seperti Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa. Kelompok Candi Arjuna merupakan kelompok candi yang memiliki bentuk paling utuh.

Kompleks Candi Arjuna ditemukan oleh tentara Inggris bernama Van Kinsbergen pada 1814. Komplek Candi Arjuna terendam dalam rawa-rawa dan membutuhkan waktu lebih dari 40 tahun untuk mengeringkannya. Kompleks Candi Arjuna merupakan candi Hindu tertua di Pulau Jawa yang diperkirakan dibangun pada 809 M. Itu tercatat dalam salah satu prasasti dalam aksara Jawa Kuno yang saat ini tersimpan di Galeri Museum Nasional Jakarta.

Puas foto-foto dan berkeliling, lanjut lagi ke Kawah Sikidang. Dari gerbang masuk, akan dibawa ke lorong penjaja makanan dan suvenir, namun tidak semuanya sedang buka, karena pandemi. Pengunjung terbatas. Di sisi lain, pemandangan adalah perbukitan kapur yang serba putih, namun beberapa titik yang jauh dari pusat kawah, masih tampak pucuk-pucuk hijau.

Area kawah dibatasi pagar, namun pengunjung masih bisa menyaksikan air bergejolak mendidih dengan asap mengepul tiada henti. Angin membawa asap berganti arah sesuka hati, sehingga kadang kawahnya tertutup penuh, kadang terbuka merekah.
Dari pusat kawah itu, pengunjung bisa berfoto-foto di sekitarnya. Latar belakangnya perbukitan kapur putih dengan ranting kering alami yang artistik. Jika mau berjalan ke puncak bukit, pengunjung bisa santai menikmati dari atas dengan lebih jelas.

Sebelum gelap, turun kembali ke tempat parkir. Langsung minta antar Abah ke tempat yang bisa menikmati sunset. Akhirnya, dibawa ke dataran yang lebih tinggi di Sigemplong.

Dari jalan utama, kiri kanan adalah pemandangan serba hijau cantik. Meski matahari tertutup kabut awan sehingga sunset tidak sebulat dalam bayangan, namun pemandangan sekeliling sudah istimewa.

Menunggu dalam Gelap

Karena tidak ada target, hari kedua meluncur ke Batu Pandang Ratapan Angin. Dulu tempat itu merupakan gundukan batu tinggi untuk melihat Telaga Pengilon dan Telaga Warna.

Namun, tempat itu sudah disulap dengan jalur tanjakan yang menarik. Tidak langsung menuju batu pandang, tetapi pengunjung dibawa menyusuri jalur cantik di antara tebing, dengan deretan ladang hijau, benar-benar cantik seperti di negeri dongeng. Gazebo utama menjadi tempat mengambil gambar dengan pemandangan depan adalah batu pandang seperti gambaran masa lalu itu.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved