Cerita Traveler

Dataran Tinggi Dieng, Tanah Para Dewa

Bagi Fifin Maidarina, Dieng menjadi tempat destinasi yang sangat berkesan. Inilah kisahnya saat berkunjung ke sana September 2020 lalu

ist
Fifin dan rekannya saat berkunjung ke Dieng 

Bermain di alam, kesabaran memang dibutuhkan, terutama di Dieng. Kabut sering turun dan menutup pemandangan, kemudian membuka kembali. Dalam hitungan waktu yang singkat, mengabadikan gambar dan ah… cantik….

Paginya, pukul 04.00 semua sudah siap dengan baju dan celana rangkap. Udara di kisaran 15 derajat Celcius. Tantangan berikutnya, diterpa angin dingin saat naik motor, jalur gelap, jalan dalam perbaikan, ditambah tanjakan-turunan. Untung ada Abah yang menjadi guide.

Langit gelap, kemudian bertanya pada Abah, di mana telaganya, ambil fotonya dari mana. “Ya dari sini,” katanya.

Lha, gelap begini? Karena udara yang begitu dingin, tubuh tidak betah diam. Bertiga berjalan berkeliling dan menemukan jalur setapak. Abah entah di mana. Bertiga mengikuti jalur setapak dalam keadaan masih gelap dan tidak tahu berujung di mana.

Sampai akhirnya tiba di dataran agak luas dan tak terasa telah tiba di tepi telaga. Telaganya tidak berbatas apa-apa, sehingga harus berhati-hati memilih jalur saat memutar karena cenderung becek. Semua siap mencari arah timur untuk menanti matahari terbit.

Pasang kamera, menyiapkan mata, dan bersiap menghirup udara segar bermandikan cahaya matahari. Semu jingga perlahan merayap, sampai akhirnya terang dan membawa pantulan kemilau di telaganya. Setelah terang, baru benar-benar sadar posisi, semua berada di rerumputan hijau. Cantiknya. Saking tanahnya becek menyerupai rawa sehingga tidak bisa duduk santai. Salah satu yang cantik adalah bunga putih yang mengisi jalur.

Sampai di atas, tampak telaga bundar di tengah perbukitan. Benar juga, bisa dinikmati cukup dari atas, meski sensasi blusukan sampai ke tepi telaga tetap menjadi momen tersendiri. Nama telaganya Dringo, berada di ketinggian 2.222 mpdl. Banyak yang mengatakan sebagai Ranu Kumbolonya Jawa Tengah.

Tak jauh dari Dringo, ada Kawah Candradimuka dan Sumur Jolotundo. Kawah yang meletup mendidih itu suhunya 90 derajat Celcius. Di sebelahnya ada kawah kecil, yang suhunya sedikit lebih turun.

Di sisi lain, ada sumber air panas kecil, yang bisa dipakai berbasuh untuk mengobati penyakit kulit, karena kandungan belerangnya. Airnya lebih hangat karena merembes dari titik lain, tidak langsung dari sumbernya.

Tak jauh dari tempat parkir, ada kebun wortel. Kebun warga, namun karena memang lingkungan yang cantik berlatar perbukitan, malah menjadi tempat foto. Berhenti sebentar untuk foto baru geser ke Sumur Jolotundo. Pengunjung bsia melihat lubang sumur yang begitu dalam dari atas.

Matahari sudah merayap tinggi, saatnya sarapan dan mandi, kemudian bertolak kembali ke Surabaya. Dua tempat wisata terakhir benar-benar sepi, tidak ada pengunjung lain. Di satu sisi, memang sangat aman untuk berlibur dan menikmati alam, di sisi lain, pariwisata begitu menyedihkan. Semoga semuanya segera pulih dan benar-benar hidup kembali. (fifin maidarina) 

Ikuti kami di
Editor: eben haezer
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved