Baru 5 Pengelola Wisata di Tulungagung yang Ajukan Izin Operasional Sejak Tutup Total Karena Pandemi

Setelah ditutup total sejak 19 Desember 2019, Hanya ada lima pengelola tempat usaha di Kabupaten Tulungagung yang mengajukan izin operasional. 

Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/david yohanes
Brond Waterpark, salah satu tempat wisata buatan di Tulungagung yang telah mengajukan izin operasional.  

SURYATRAVEL, TULUNGAGUNG - Hanya ada lima pengelola tempat usaha di Kabupaten Tulungagung yang mengajukan izin operasional. 

Padahal Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Tulungagung meminta setiap pengelola tempat wisata untuk mengajukan izin, setelah ditutup total sejak 19 Desember 2019. 

Dari lima tempat wisata yang mengajukan izin itu, baru tiga  yang  sudah menjalani asesmen.

"Jadi secara resmi belum ada tempat wisata yang mendapat izin buka, semua masih tahap pengajuan izin dan assesment," terang Wakil Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Tulungagung, Galih Nusantoro, Senin (1/3/2021).

Tiga lokasi wisata yang sudah selesai assesment adalah  Nangkula Park di Desa Kendalbulur Kecamatan Boyolangu, Kampung Susu Dinasty di Desa Sidem Kecamatan Gondang, dan Brond Waterpark di Desa Sobontoro Kecamatan Boyolangu. 

Sedangkan Punokawan Park di Desa Banaran Kecamatan Kauman sudah dilakukan assesment, namun belum mendapatkan izin dari Satgas.

Penyebabnya, Punokawan Park belum mendapat rekomendasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

"Satu-satunya destinasi wisata alam  yang sudah mengajukan izin adalah Pantai Gemah," sambung Galih. 

Diakui Galih, ada banyak syarat yang ditetapkan Satgas bagi para pengelola tempat wisata.

Karena itu banyak pengelola tempat wisata menunda pengajuan izin, untuk melengkapi syarat yang ditetapkan. 

Mulai dari tempat cuci tangan dengan jumlah  menyesuaikan luas area.

Kemudian, pos kesehatan dengan tim kesehatan yang berjaga dengan melibatkan Puskesmas setempat, serta berbagai peralatan untuk memeriksa kondisi pasien, pembatasan   jumlah pengunjung, serta pembatasan jam operasional. 

Hingga alat pengeras suara yang dipakai petugas untuk selalu mengingatkan protokol kesehatan. 

"Misalnya ada pengunjung yang sekiranya kurang sehat, ada ruang isolasi sebelum ditangani lebih jauh," tegas Galih.

Jam operasional wisata buatan dimulai pukul 06.00 WIB hingga 11.30 WIB, kemudian dikosongkan untuk dilakukan sterilisasi.

Kemudian dilanjutkan dan tutup pukul 16.00 WIB.

Sedangkan wisata alam dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

"Untuk wisata alam, pukul 16.00 WIB tidak boleh ada wisatawan yang masuk. Sementara yang di dalam menunggu sampai kosong," papar Galih.

Ada 16 parameter yang ditetapkan Satgas yang harus dipenuhi pengelola wisata.

Semakin cepat syarat ini dipenuhi, maka semakin cepat  proses asesmen dan izin operasional kembali diberikan. (David Yohanes)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved