Pedagang Buku di Kampung Ilmu Kini Merambah Platform Digital

Budi Santosa mengatakan sepinya penjualan buku ini membuat para pedagang buku di Kampung Ilmu beralih menjual dagangannya ke platform digital.

Penulis: Akira Tandika
Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/sugiharto
pedagang membungkus buku yang akan dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia. Saat ini pedagang di Kampung Ilmu mengandalkan penjualan secara online untuk bertahan di tengah pandemi. 

SURYATRAVEL, SURABAYA - Terhitung setahun sejak pengumuman pasien pertama yang terinfeksi COVID-19 di Indonesia, berbagai sektor bisnis dan aktivitas menunjukkan penurunan drastis.

Namun, dalam satu tahun itu, bukan berarti masyarakat berdiam diri dan tidak berusaha melakukan inovasi bagi usaha mereka. Langkah tersebut telah dilakukan meski hasil yang didapat pun tidak sepenuhnya berubah.

Hal itu pun yang dilakukan oleh pedagang buku di Kampung Ilmu, Jalan Semarang Surabaya. Bahkan sebelum pandemi, penjualan buku di Kampung Ilmu telah mengalami penurunan.

Ketua Paguyuban Pedagang Kampung Ilmu Jalan Semarang Surabaya, Budi Santosa mengatakan sepinya penjualan buku ini membuat para pedagang beralih menjual dagangannya ke platform digital.

"Tentu, selama pandemi ini penjualannya terdampak, bahkan penurunannya sampai 60 persen. Tapi alhamdulillah, pedagang di sini masih tertolong penjualan online," terang Budi.

Menurut Budi, dalam sehari jika penjualan dilakukan secara konfensional, hampir tidak ada pembeli.

Budi melanjutkan, penjualan buku sebetulnya telah menurun, bahkan sebelum pandemi. Namun, sejak pandemi, penjualan justru merosot tajam dari hari biasanya.

“Mungkin seiring perkembangan teknologi digital ini ya, juga mempengaruhi secara tidak langsung,” ujar Budi.

Jika ada pembeli yang datang secara langsung ke Kampung Ilmu, biasanya mereka hanya mencari buku sejarah, novel, maupun buku tes masuk perguruan tinggi.

“Kalau kolektor, biasanya mencari buku-buku sejarah. Sedangkan anak muda yang dicari biasanya novel,” ucapnya.

Di Kampung Ilmu, total ada 85 pedagang yang masih bertahan. Dari jumlah pedagang itu, belum ada yang mendapat arahan secara langsung dari pemerintah untuk menunjang penjualan buku di Kampung Ilmu.

“Selama ini, kami inisiasi sendiri untuk menjualkan buku secara online. Pernah juga kami mengikuti pameran-pameran di pondok pesantren, sekolahan, dan lain sebagainya. Jadi ya sekarang rata-rata dijual online seperti lewat medial sosial atau platform digital lainnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, penjualan buku melalui platform digital menjadikan para pedagang lebih leluasa dan mampu menjangkau seluruh wilayah di Surabaya dan daerah lainnya.

"Kalau berjualan secara online, enaknya kami lebih luas jangkauannya dan lebih leluasa. Jualan konvensional, yang dijangkau hanya warga Surabaya saja. Sementara berjualan online, yang beli bisa dari Malaysia, Papua, Jakarta, banyak,” tandasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved