Era Normal Baru, Tour Leader Wajib Mahir Storytelling dan Storynomics Destinasi Wisata

Kemampuan tour leader dalam bercerita (story telling)  menjadi  nilai tambah bagi wisatawan saat berkunjung ke suatu destinasi wisata.

ist
Rombongan  wisatawan dari Indonesia sebelum pandemi di salah satu destinasi wisata di Turki 

SURYATRAVEL, SURABAYA - Era kenormalan baru pada masa Pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku  wisata utamanya tour leader untuk lebih meningkatkan kemampuan dan kreativitas.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah kemampuan dalam story telling dan Story nomics yang harus dikuasai oleh tour leader.

“Kemampuan tour leader dalam bercerita (story telling)  menjadi  nilai tambah bagi wisatawan saat berkunjung ke suatu destinasi wisata. Begitupun narasi  konten kreatif serta budaya (story nomics) tentang suatu destinasi  sangat penting,” kata Sandiaga Uno kepada peserta Konferensi Nasional Indonesian Tour Leader Association (ITLA), Sabtu (10/04/2021).

Ia mengajak kepada semua peserta Konferensi untuk  lebih  meningkatkan lagi  kemampuan story telling dan story nomics. Menurutnya pariwisata  dan ekonomi  kreatif  pasca pandemi  Covid  -19  trennya pariwisata bergeser ke arah pembangunan pariwisata berkelanjutan (Quality and sustainable tourism Development ).

“Wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi jumlahnya akan sedikit tapi lebih berkualitas. Karena itu,  story telling  dan  story nomics  suatu destinasi  harus lebih kuat ini merupakan tugas kita semua khususnya tour leader,” tegasnya.

Olivia Gunawan, Sekjen DPP ITLA  menambahkan sebagai tour leader profesional harus memiliki dan mampu berstory telling dan story nomics.

“Hal ini sangat menunjang profesi kami sebagai tour leader dalam memberikan informasi selama perjalanan serta melengkapi peran tour guide bila di destinasi tersebut ada tour guide,” paparnya.

Tidak semua negara destinasi wisata membutuhkan local guide, khususnya negara Eropa hanya sebagian kecil saja kota yang memakai local guide, “ Jadi Story telling dan story nomics akan dilakukan oleh tour guide,” tukasnya.

Dalam hal ini tour leader juga diperkenankan pemanduan wilayah yang tidak ada tourist guide, untuk melakukan pemanduan harus memiliki kemampuan story telling dan story nomics. “Kemampuan story telling dan story nomics adalah bagian dari komunikasi soft skill yang harus dimiliki seorang tour leader,” Lanjut Robert A Moningka,  Ketua Bidang SDM dan Litbang DPP ITLA.

Sementara itu Ketua Umum DPP  ITLA , Tetty DS Aryanto menjelaskan,  Konferensi Nasional  HUT Ke-12  ITLA  merupakan kegiatan proaktif ITLA sebagai organisasi  profesi  mendukung kebijaksanaan pemerintah terkait pariwisata.

“ Kami berharap Konferensi  Nasional ini bisa  meningkatkan kemampuan (Up Skill)  tour leader anggota ITLA, sebagai pemimpin perjalanan pariwisata,” ungkap Tetty.

Yang menarik dalam kegiatan ini juga mendapat perhatian luar biasa dari para pelaku ekonomi kreatif di dalam dan luar negeri, sejumlah toko oleh oleh dan cinderamata sponsor dari manca negara ikut andil dalam konferensi yang mengangkat kembali geliat pariwisata ini di era kenormalan baru.

Seperti Tobben ,  Indoreisen,  Bucherer,  Bernina Express, Coster Diamond, Drubba dan F2F, Gassan, ONTA (Online Travel Service),  Sandy Kataja,   El Corte Ingles, Gublin,  Foto De Boer, The Bicester Shopping, Indogarmen,  dan Galleries Lafayette. (wiwit purwanto) 

Ikuti kami di
Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: eben haezer
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved