243 Tahun Berdiri, Masjid Imam Puro Jadi Saksi Bisu Syiar Islam di Ujung Barat Laut Ponorogo

Kental dengan nuansa kunonya, halaman Masjid Imam Puro berdiri sejak tahun 1778 dan jadi kebanggaan warga Ponorogo

Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/sofyan arif candra
Masjid Imam Puro Di Desa Sukosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, 

Reporter: Sofyan Arif Candra

SURYATRAVEL, PONOROGO - Di Desa Sukosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, berdiri Masjid Imam Puro yang menjadi saksi bisu sejarag penyebaran agama Islam di Bumi Reog.

Kental dengan nuansa kunonya, halaman Masjid Imam Puro nampak teduh lantaran ditumbuhi beberapa pohon Sawo Kecik besar dan pohon buah mentega atau Bisbul.

Menurut Imam Masjid Imam Puro, KH. Muhammad Maksum, masjid tersebut berdiri sejak tahun 1778.

Masjid yang berdiri di atas lahan tiga ribu meter persegi itu didirikan oleh KH. Imam Puro, orang pertama yang menyebarkan agama islam di sebelah utara barat atau barat laut Ponorogo, perbatasan dengan Magetan.

Kiai Imam Puro merupakan cicit dari Ki Ageng Muhammad Besari, pendiri masjid Tegalsari di Kecamatan Jetis.

Bapaknya adalah Tubagus Abuyamin dari Banten yang merupakan murid Ki Ageng Besari yang akhirnya menikahi cucu Ki Ageng Besari.

"Mbah Imam Puro yang menyebarkan agama islam di sini. Selain masjid, beliau juga mendirikan pondok pesantren, santrinya kebanyakan dari luar daerah sini, ada yang dari banten juga," kata Maksum, Minggu (25/4/2021).

Ki Ageng Besari memerintahkan Tubagus Abuyamin untuk babat alas dan menyebarkan agama Islam di Desa Demangan, Kecamatan Siman. 

Setelah pondok pesantren berdiri, ia memerintahkan anaknya, Imam Puro untuk menyebarkan agama Islam di ujung utara barat Ponorogo.

"Mbah Imam Puro menyebarkan agama islam di lahan baru. Hingga dipilih tempat di barat laut Ponorogo yakni di Desa Sukosari ini," lanjutnya.

Berdiri selama 243 tahun, Masjid Imam Puro pernah mengalami renovasi beberapa kali, diantaranya pada tahun 1850-an dan tahun 1960-an.

Kondisi masjid kini masih dalam proses renovasi.  Luas masjid diperlebar hingga dua kali lipat lebih dari ukuran aslinya 9 x 9 meter persegi.

"Daya tampungnya kalau bangunan utama 400 jemaah. Kalau Idul Fitri sampai halaman ya bisa 1.000 jemaah," jelas Maksum.

Walaupun mengalami renovasi, pengurus masjid tetap mempertahankan sumur tua yang berada di depan masjid dan Beduk serta kentongan asli. 

Pengurus masjid hanya beberapa kali memperbarui kulit lembu beduk yang menua.

"Saat ini daya tampung di dalam masjid bisa 400 orang. Namun jika salat Ied bisa mencapai 1.000 jemaah hingga meluber ke halaman masjid," katanya.

Makam KH Imam Puro sendiri terletak di belakang masjid. 

Setiap hari, terlebih pada saat menjelang bulan Ramadan, selalu ramai dikunjungi peziarah. Bukan hanya dari Ponorogo, peziarah juga berasal dari luar kota.

"Biasanya kalau dari luar kota dijadikan satu paket sama ziarah ke Ki Ageng Besari. Habis dari sana baru kesini," kata Maksum.

Namun sejak adanya pandemi Covid-19 ini tidak banyak peziarah yang datang.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved