Pesanan Kerupuk Rambak Tulungagung Naik 50 Persen, Tapi Belum Pulih Dari Situasi Pandemi

Pengusaha kerupuk rambak di Kelurahan Sembung, Kecamatan Tulungagung mulai kebanjiran pesanan menjelang Idul Fitri.

Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/david yohanes
Pengemasan kerupuk rambak 

Tidak ada pemutih yang digunakan, serta proses pengeringan sepenuhnya mengandalkan sinar matahari.

Sekali pengeringan dibutuhkan waktu 10 hari dengan kondisi matahari terik.

“Krecek (rambak mentah) tidak bisa dioven, karena akan meleleh. Jadi setiap kali panas panjang, kami memproduksi sebanyak mungkin kemudian distok,” tutur Tri.

Sedangkan untuk inovasi produk, Tri membuat rambak berbentuk stick.

Model ini memudahkan rambak masuk ke dalam toples.

Selain itu dari sisi bumbu juga lebih mudah meresap, sehingga rasanya berani diadu.

“Kami juga menggunakan mesin untuk pemotongan, bukan dipotong manual. Selain cepat juga lebih higienis,” tuturnya.

Rambak Sembung dijual di pusat jajanan Rp 120.000 – Rp 125.000 per kilogram untuk kulit sapi.

Sedangkan untuk kulit kerbau lebih mahal, dipatok Rp 165.000 – Rp 175.000 per kilogram.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Menengah Kecil dan Mikro (Dinkop UMKM) Tulungagung, Slamet Sunarto mengakui, kerupuk rambak adalah salah satu andalan Tulungagung.

Kerupuk ini selama ini banyak diminati di dalam Tulungagung, hingga dipasarkan di berbagai kota.

Untuk mewadahi kebangkitan UMKM di tengah pandemi, Dinkop UMKM mempunyai inovasi Digitalisasi Lapak UMKM.

“Kami ada tujuh komunitas di dalamnya. Saat ini sudah ada 409 pemain (UMKM) dengan lebih dari 1200 produk,” terang Slamet.

Lewat digitalisasi lapak UMKM ini pihaknya berupaya mencari terobosan pemasaran.

Salah satunya dengan menggandeng Bank Jatim untuk sistem pembayaran nontunai.

Setiap pelaku UMKM telah mempunyai kode Qris yang memudahkan pembayaran.

“Qris juga membantu meniadakan kontak fisik saat pembayaran di masa pandemi,”sambung Slamet.

Semua komunitas UMKM ini juga bergabung di dalam wadah keperasi.

Setiap hari ada tim lapak UMKM yang bertugas sebanyak 13 orang, semuanya dari komunitas.

Ke depan Dinkop UMKM juga akan mengembangkan layanan, untuk memudahkan pelaku UMKM mengirim barang ke luar kota atau luar negeri.

“Kami akan gandeng PT Pos, nanti ongkos kirim pelaku UMKM yang terdata akan ditanggung Pemda. Inovasi ini untuk memotivasi pelaku UMKM,” pungkas Slamet.  (David Yohanes)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved