TNBTS Libatkan Komunitas Untuk Lestarikan Elang Jawa

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sejak 2012 lalu fokus untuk melakukan pelestarian Elang Jawa. Salah satu upayanya melibatkan komunitas

Editor: eben haezer
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Ilustrasi elang jawa 

SURYATRAVEL, MALANG - Elang Jawa yang memiliki nama latin Nisaetus bartelsi merupakan burung yang dilindungi di Indonesia. Burung endemik Pulau Jawa tersebut populasinya kini mulai terancam 

Sejumlah faktor ditengarai menjadi penyebab burung yang menjadi lambang negara Republik Indonesia itu semakin susah dijumpai di alam liar. Di antaranya perburuan liar dan perambahan hutan.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sejak 2012 lalu fokus untuk melakukan pelestarian Elang Jawa. Hal pertama yang dilakukan ialah melakukan monitoring ke sejumlah titik yang kerap dijumpai Elang Jawa.

Karena keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan peralatan untuk melakukan pengamatan dan monitoring, pendataan terhadap Elang Jawa kurang begitu maksimal.

Hingga akhirnya, pada 2017, TNBTS mulai menyediakan peralatan seperti kamera dalam melakukan pengamatan tersebut. Serta mengajak sejumlah warga sekitar dan warga Tengger yang tinggal di sekitaran TNBTS.

"Memang waktu itu kita jauh tertinggal dari taman nasional lain. Tapi semenjak kita mengajak komunitas. Dan membeli peralatan seperti kamera, membuat pemantauan terhadap Elang Jawa menjadi maksimal," ucap Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS, Toni Artaka.

Berdasarkan catatan TNBTS sejak 2017-2021, total terdapat 27 Elang Jawa dari individu yang berbeda terdapat di TNBTS. Jumlah tersebut menunjukkan adanya kenaikan populasi dari Elang Jawa.

Elang Jawa kerap ditemui di lereng barat dan lereng timur Gunung Semeru. Namun, kata Toni jumlah tersebut masih bisa bertambah, karena masih ada area yang belum termonitoring oleh petugas.

"Kabar ini harus kami informasikan. Karena selama ini kita hanya menyembunyikan. Kalau sampai hilang jadi kami yang salah. Tapi kalau saya kasih tahu ke masyarakat, jadi kita semua yang salah," ucapnya.

Toni mengatakan, dengan termonitornya Elang Jawa tersebut menjadi bukti, bahwa ekosistem hutan yang ada di TNBTS masih terjaga.

Hal ini berbanding terbalik dengan populasi burung Cucak Ijo, burung Manyar dan burung Gelatik di TNBTS

Selama melakukan pengamatan di dalam hutan, pihaknya hanya sesekali saja dapat bertemu dengan ketiga jenis burung tersebut.

Hal tersebut menjadi catatan Toni selama mengamati ekosistem yang ada di hutan kawasan TNBTS.

"Seperti Cucak Ijo itu di hutan kita jarang sekali menemukannya. Tapi di pasar burung malah banyak. Karena masyarakat banyak yang berburu itu. Mereka lebih memilih cara yang instan," tandasnya.(rifky edgar)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved