Tak Cuma Apel, Kota Batu Juga Dikenal Sebagai Penghasil Buah Kesemek Glowing

ada buah lain yang juga sangat khas Kota Batu, yakni kesemek glowing yang berbeda dari kesemak pada umumnya yang berwarna putih

Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/benni indo
Sudarmono menunjukan buah kesemek yang ia hasilkan dengan ukuran cukup besar, khas Kota Batu. Melalui proses yang inovatif, buah kesemek itu terlihat bersinar dengan rasa yang manis. 

SURYATRAVEL, BATU – Kota Batu memang dikenal sebagai kota penghasil buah apel terbaik, bahkan apel telah menjadi ikon kebanggaan.

Namun ternyata, ada buah lain yang juga sangat khas Kota Batu, yakni kesemek. Bedanya dengan kebanyakan kesemek pada umumnya, kesemek khas Kota Batu ini berukuran lebih besar. Diameternya bisa mencapai 7 cm.

Buah kesemek khas Kota Batu juga diolah dengan inovasi kekinian. Alhasil, buah kesemek yang diproduksi terlihat bersih bersinar, tidak seperti pada umumnya yang berwarna putih karena larutan air kapur. Karena bentuknya yang bersih bersinar itu, warga menjulukinya kesemek glowing. Glowing adalah bahasa Inggris yang berarti bersinar.

Buah kesemek glowing banyak ditemukan di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Keberadaan buah ini sudah lama, bahkan sejak masih era kolonial. Sudarmono, seorang yang memproduksi kesemek glowing menceritakan, usaha mengirim buah kesemek sudah dilakukan keluarganya sejak lama.

“Buah ini sudah ada di Kota Batu lebih dari 60 tahun yang lalu,” ujar Momon, sapaan akrabnya, Senin (21/6/2021).

Inovasi yang dilakukannya adalah membuat kesemek terlihat bersinar tanpa larutan air kapur. Meski begitu, rasanya tetap manis, bahkan lebih manis dari biasanya. Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko juga diceritakan Momon pernah memesan hingga 60 Kg. Kemudian buah itu dikirim ke Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Buah kesemek harus memiliki getah yang harus dinetralkan. Biasanya dengan merendam kesemek ke air kapur. Diceritakan Momon, kebiasaan merendam di air kapur adalah kebiasan orang Belanda.

“Saat itu, orang Belanda sedang membangun rumah dan menggunakan air kapur sebagai campuran. Ada buah kesemek yang jatuh ke situ, tidak lama kemudian diambil lalu dikonsumsi. Ternyata manis dan disukai, dari situlah berawal kebiasaan menggunakan air kapur,” terangnya.

Namun kini dirinya tidak menggunakan air kapur. Momon menggunakan komposisi bahan makanan untuk membuat kesemek glowing. Cara itu ia klaim sangat efektif menghilangkan getah dan membuat buah terlihat bersinar.

“Butuh waktu tujuh tahun untuk menemukan ramuan membuat kesemek glowing. Prosesnya memang direndam, tapi ada campuran bahan makanan yang tidak bisa saya jelaskan di sini,” ujar Momon.

Apa yang ia hasilkan saat ini bukan tanpa kegagalan. Sebelum akhirnya menemukan ramuan yang betul-betul pas, Momoh berulang kali menjumpai kegagalan.

“Salah satunya, buahnya tidak bisa tahan lama. Dua hari saja sudah membusuk. Nah, kalau yang ini, jika di daerah dingin bisa bertahan dua minggu. Kalau daerah panah, semingguan,” kata Momon.

Kesemek asal Kota Batu diyakininya memiliki cita rasa lebih manis dan ukurannya lebih besar karena tumbuh di ketinggian 1200  meter di atas permukaan laut (mdpl). Di samping itu, kontur tanah di Kota Batu sangat subur.

Buah kesemek panen setahun sekali. Dalam sekali panen, bisa menghasilkan hingga 100 ton. Dalam sepekan, Momon bisa mengirim buah seberat 2.5 ton ke luar kota.

Kota-kota yang menerima kiriman kesemek glowing adalah Surabaya, Jakarta, Denpasar, Banjarmasin, Semarang, Lampung dan Makassar. Sekali waktu diekspor ke Singapura oleh pihak kedua.

"Kami mematok harga Rp 20-25 ribu per kilonya yang berisi 5 sampai 6 buah kategori A. Kalau B Rp 12-15 ribu berisi 7 sampai 9 buah. Namun kami juga tetap melayani pesanan pasar tradisional dengan harga Rp 5 ribu per kilonya tapi bukan yang glowing,” ungkapnya.

Kesemek yang dihasilkan adalah kesemek organik. Pohonya tumbuh di antara perkebunan apel. Pohon-pohon itu tumbuh secara alami hingga akhirnya juga berbuah secara alami. Perawatannya pun tidak begitu sulit.

Momon berharap, potensi yang ada tersebut dapat ditangkap sebagai peluang bagus oleh Pemkot Batu. Ia berharap ada regulasi yang membantu distributor agar kesemek glowing bisa go internasional.

“Saya ingin bersaing dengan negara lain. Jadi kirim ke luar negeri. Tentu saja kami ambil yang lebih bagus. Tinggal bagaimana pemerintah membuat regulasi membuka pengiriman ke luar negeri itu,” harapnya. (Benni Indo)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved