Pelaku dan Pengelola Wisata Pantai Gemah Tulungagung Terkapar Berharap Kondisi Pulih Kembali

Pantai Gemah Tulungagung masih tutup sejak awal Juli 2021, saat diberlakukan PPKM Darurat, pihak pengelola mengaku tidak punya dana untuk membersihkan

Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/David Yohanes
Kondisi Pantai Gemah Tulungagung saat PPKM Level 4. 

Suryatravel – Sebagian besar destinasi wisata mati suri saat masa PPKM  darurat – level 4, salah satunya adalah Pantai Gemah, destinasi wisata andalan Tulungagung di Desa Keboireng, Kecamatan Besuki.

Kondisi ini terlihat dari sepinya wisata ini serta dibiarkan kotor oleh pengelola. Sampah berserakan di sepanjang pantai.

Sejak awal Juli 2021, saat diberlakukan PPKM Darurat, pihak pengelola mengaku tidak punya dana untuk membersihkan.

"Mau bagaimana, tidak ada dana bersih-bersih. Nanti saja kalau PPKM dicabut kami bersihkan," ujar Imam Rojikin, Ketua Pokdarwis Pantai Gemah.

Pantai Gemah sebelum Pandemi
Pantai Gemah sebelum Pandemi (Suryatravel/David yohanes)

Sampah-sampah itu berasal dari saluran Parit Raya dari Trenggalek dan Parit Agung dari Tulungagung.

Sampah yang dibuang sembarangan di dua sungai besar ini masuk ke Teluk Popoh lewat terowongan Niyama.

Sampah dari Teluk Popoh dibawa ombak kemudian terdampar di Pantai Gemah dan pantai-pantai lain di sekitarnya.

"Kalau kondisi normal pasti langsung dibersihkan, apalagi kami ada Jumat bersih. Sebelum wisatawan masuk, kamu sudah bersihkan," ucap Rojikin.

Sejak PPKM Darurat pengelola Pantai Gemah memasang portal di semua pintu gerbang.

Setiap hari hanya warga setempat yang beraktivitas di pantai ini.

Namun masih ada wisatawan nakal yang parkir kendaraan di Jalur Lintas Selatan (JLS) dan berjalan menerobos portal.

Itu pun hanya beberapa orang dan bisa dihitung dengan jari.

Sementara para pelaku usaha, seperti pemilik warung, persewaan ATV dan lain-lain harus berhenti total.

Rojikin menyebut, semua pelaku usaha di Pantai Gemah terkapar. "Tidak hanya terpukul, kami sudah tahap terkapar. Banyak yang alih pekerjaan," keluhnya.

Banyak di antara warga pelaku usaha di Pantai Gemah beralih menjadi pemecah batu.

Mereka mengambil batu limbah proyek JLS, dan memecahnya menjadi batu split atau kricak lalu menjualnya sebagai bahan bangunan.

Mereka yang sebelumnya peladang kembali masuk hutan untuk berladang.

"Harapannya PPKM berakhir dan pariwisata dipulihkan, meski dengan syarat. Semoga semua bisa kembali bergulir seperti sebelumnya," pungkas Rojikin.  (David Yohanes) 

--

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved