Rindu Kenyamanan Naik KA Lokal Saat Perpanjangan PPKM

ketika PPKM diberlakukan 2,5 bulan yang lalu membuat pelanggan KA lokal kelimpungan karena tidak bisa lagi merasakan kenyamanan naik KA

Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/ istimewa
Kenyamanan naik KA Lokal yang tidak ditemukan selama PPKM (foto diambil sebelum pandemi) 

Suryatravel | - Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia berimbas pada semua sektor, salah satunya seluruh sarana transportasi angkutan umum merasakan dampak dari wabah virus mematikan ini. Akibatnya penumpang harus memilih angkutan alternatif.

Tak terkecuali pelanggan setia angkutan Kereta Api (KA) lokal juga merasakan.  Setiap hari mereka memanfaatkan angkutan KA. Selain murah KA lokal sekarang juga lebih nyaman, bersih, dan tepat waktu.

Kenyamanan transportasi KA seperti kebersihan kereta, jumlah penumpang sesuai tempat duduk, gerbong KA sudah ber AC ini nyaris sirna ketika pemerintah mengumumkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang kemudian istilah tersebut menjadi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)

Saat PSBB awal KA lokal masih boleh jalan, meskipun banyak pembatasan dan pembatalan operasional KA.

Tapi ketika PPKM diberlakukan 2,5 bulan yang lalu benar benar membuat pelanggan KA lokal ini kelimpungan karena tidak bisa lagi merasakan kenyamanan naik KA.

Ria Priscilla salah satu pelanggan setia KA lokal Malang Surabaya yang setiap hari menggunakan angkutan ini untuk berangkat dan pulang kerja akhirnya merasakan kehilangan kenyamanan naik KA.

Kebetulan Ria bertempat tinggal di Kota Malang namun ia bekerja di Surabaya.

“Saya setiap hari Malang Surabaya dengan naik KA Tumapel,” ujarnya.

Ketika pemerintah  memberlakukan  Pembatasan Sosial Berskala Besar  (PSBB) untuk memutus penyebaran covid-19 yang salah satunya adalah pembatasan operasional perjalanan KA, termasuk KA lokal.

Teman-teman yang biasa naik KA Malang Surabaya PP, kata Ria, terwadahi dalam Komunitas KA Penataran  ini sebagian menyesuaikan.

Mereka ada yang naik bus, ada yang carter, ada pula yang giliran Work From Home (WFH).

Namun, kondisi kenyamanan dari kereta lokal ini makin hilang saat gelombang kedua pandemi menderu.

“Sekitar 2,5 bulan kami benar-benar kelimpungan karena tidak beroperasinya KA lokal yang tidak satu wilayah aglomerasi,” lanjut Ria.

Karena tidak dalam wilayah aglomerasi, penumpang KA diwajibkan dengan syarat yang salah satunya adalah Rapit Test Antigen. Namun, kebijakan lain KA lokal ini pun mengalami pembatalan perjalanan alias tidak beroperasi.

Mau tidak mau ada pilihan jatuh kepada bus, karena  ia harus tetap bekerja ke Surabaya, tetapi kali ini ia harus menumpang bus.

Apa yang dikhawatirkan terjadi, karena bus yang seharusnya menerapkan protokol kesehatan seperti pembatasan jumlah penumpang dan penumpangnya wajib memakai masker, tetapi hal ini sepertinya diabaikan.

“Bus tidak memperhatikan jumlah penumpang pokoknya isi saja hingga penuh,” ungkapnya.

Belum lagi penumpang didalam bus yang tidak memakai masker cukup banyak.

“Ketika saya naik Bus Patas juga banyak yang tidak melakukan protokol kesehatan, ngeri, “ katanya.

Kondisi ini sudah berjalan hampir 2,5 bulan. “Kita sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat bahkan pakai masker 3 lapis tapi orang lain masih seenaknya tanpa memakai masker, benar benar tidak nyaman,” ungkapnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved