Kebun Durian Abah Anton Kini Ramai Dikunjungi Wisatawan Ada Kafe Di Tengah Kebun

Abah Anton, mantan Walikota Malang kini mengembangkan usaha kafe Abudancio dan kebun durian di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/ istimewa
Kebun Durian Abah Anton pengunjung bisa durian petik sendiri 

 

Suryatravel - Abah Anton, mantan Walikota Malang kini mengembangkan usaha kafe Abudancio dan kebun durian di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Keunikan lokasi ini adalah kafe berada di antara kebun durian yang sedang berbuah lebat. Banyak rombongan datang ke lokasi ini.

Karena banyak yang berbuah, maka pengunjung mengabadikan dengan berfoto bersama durian. Di bagian belakang kafe, ada banyak durian yang siap dibeli pengunjung.

Abah Anton yang memilihkan sendiri durian buat pembeli. Setelah dicicipi pembeli dan oke, maka pembeli membayar ke kasir khusus pembelian durian. 

"Saya memilih memadukan kebun durian dengan kafe karena saya suka durian. Dan masyarakat suka dengan konsep seperti ini," jelas Abah Anton.

Ia sudah lama sudah memiliki lahan seluas empat hektare. Awalnya perkebunan jeruk. Tapi kemudian ditanami durian sejak 10 tahun lalu. Baru pada lima tahun terakhir berbuah. Namun hasilnya tidak ia jual. 

Ia memilih memberikan ke kolega dan teman. Tapi makin kesini banyak yang ingin membeli durian miliknya. Akhirnya sekaligus dibuka usaha kafe.

"Pohon durian ini  saya tanam sejak kecil," katanya.

Berbagai macam jenis durian ia tanam. Seperti durian bawor, matahari, montong lokal, kunir. Durian kunir berwarna kuning namun tidak terlalu manis. 

Ini yang disukai pengemar durian namun memiliki penyakit diabet. Pohon durian yang berbuah lebat siap dipanen. Namun di bagian atas sudah tumbuh bunga dan buah lagi. 

Jumlah tanaman durian ada 400 an. Selain itu juga jeruk serta tanaman buah lainnya. Pohon durian di kebun itu bisa berbuah terus menerus. 

Hal ini karena dilakukan pemupukan yang baik karena memanfaatkan kompos serta pupuk kandang. Kegiatan di bisnis itu katanya sebagai hiburan.

"Usaha tetes tebu sudah diteruskan anak saya nomer satu dan tiga. Saya mengurus di sini saja," kata Abah Anton. Pengunjung datang dari berbagai daerah. Kafe milik Abah Anton menjadi magnet karena menu makanan murah dan enak. 

Paling mahal Rp 20 ribu. Salah satu pengunjung Ny Budi dari Jawa Barat karena dapat info dari grup. "Dari Abah Anton sendiri. Saya senang kesini karena sambil makan juga bisa melihat pohon durian dan membelinya," kata Ny Budi yang datang bersama temannya. 

Untuk harga durian bervariasi. Paling mahal Rp 150 ribu/biji. Dikatakan, setiap harinya ia di kafe. Dan ia merasa pembeli senang ia melayani mereka dalam memilih durian. 

"Karena suka durian, saya tahu bagaimana memilih durian yang pas," katanya.

Dikatakan Abah, sejumlah warga Petungsewu juga sudah ada yang bertanam durian. Hasil buah dari mereka juga ditampung di lokasi usahanya untuk dijual. Ini juga sebagai upaya pemberdayaan masyarakat sekitar. Tempat makan ini tutup sampai jam 20.00 WIB dan buka setiap hari. Setiap minggu laku 2000 buah durian. Sylvianita Widyawati

 

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved