Tradisi Pertarungan Ojung Masih Eksis Digelar Di Situbondo Wajib Mengenakan Kopyah Hitam

Tradisi ojung atau pertarungan  satu lawan satu menggunakan rotan ini rutin digelar setiap tahun sebagai salah satu rangkaian selamat desa,

Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/ izi hartono
Dua pemuda berlaga saling mempertahankan agar tidak terkena sabetan rotan dalam tradisi ojung 

Suryatravel -  Tradisi ojung di Desa Bugeman,  Kecamatan Kendit,  Kabupaten Situbondo, masih eksis hingga sekarang.

Tradisi ojung atau pertarungan  satu lawan satu menggunakan rotan ini rutin digelar setiap tahun sebagai salah satu rangkaian selamat desa, tradisi ojung merupakan tradisi turun temurun nenek moyang warga Desa Bugeman tersebut. 

Yang menarik dalam pertandingan ini  para peserta diwajibkan tidak menggunakan baju dan harus  mengenakan kopyah hitam serta sarung.

Dalam pertandingan tradisi ojung juga melibatkan seorang wasit yang akan mengatur jalan tradisi pecutan rotan tersebut. 

Para peserta yang bertanding,  biasanya membawa nama gelar yang lucu lucu. Misalnya saja berjuluk santre mole,  seset, senget serta lanceng gegek. 

Salah seorang peserta mengatakan, dirinya sengaja mengikuti tradisi ojung ini,  semata mata ingin menghibur masyarakat. 

"Ya kalau kena sabetan rotan pasti sakit,  tapi kami ingin memeriahkan tradisi ojung agar tidak hilang ," terang pemuda berjuluk Seset ini. 

Dirinya pertama kali sempat takut untuk ikut berlaga, tapi rasa itu hilang ketika antusias masyarakat yang menonton sangat banyak.

"Makanya saat kena atau tidak sabetan rotan, peserta tetap berjoget, " katanya tersenyum. 

Kepala Desa Bugeman, Udit Yuliasto mengatakan, tradisi ojung ini digelar setiap memasuki bulan Maulud Nabi dan hari Senin terakhir. "Tradisi ini sakral, makanya kita gelar tepat pas pada hari itu, " kata Udit Yuliasto. 

Karena tradisi ojung sudah diakui sebagai budaya masyarakat Desa Bugeman secara nasional,  Udit meminta perhatian dari Pemerintah Kabupaten Situbondo agar tradisi ojung ini dilestarikan. 

"Semuanya terlibat dalam tradisi ojung ini, baik itu kades,  tokoh, masyarakat sendiri serta pemangku adat desa, " ujarnya. 

Sebelum tradisi ojung digelar,  pihaknya melakukan rangkaian kegiatan Maulud Nabi dan penyerahan sesajen kepada pemangku adat. 

"Dengan tradisi ojung ini diyakini masyarakat juga sebagai tolak balak, seperti dijauhi penyakit dan rejekinya lancar. Makanya tradisi ini digelar masyarakat setiap tahun, " pungkasnya. (izi)

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved