Turun Drastis Kunjungan Wisatawan Ke Gili Ketapang

Penurunan penumpang wisatawan ke Gili Ketapang Probolinggo di masa pandemi Covid-19 mencapai 50 persen

Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/ danendra
Puluhan kapal tradisonal penyeberangan Pelabuhan Tanjung Tembaga-Gili Ketapang masih bersandar menunggu wisatawan, Senin (22/11).  

 

Suryatravel – Wisatawan yang berkunjung ke Pulau Gili Ketapang Probolinggo menurun hingga 50 persen selama pandemi Covid-19.

Penurunan jumlah wisatawan itu juga beribas pada perolehan pendapatan dari kapal tradisional yang dipergunakan untuk menuju ke Gili Ketapang.

Koordinator Kapal Penyeberangan Tradisional via Pelabuhan Tanjung Tembaga Kota Probolinggo-Gili Ketapang, Suryono mengatakan saat ini wisatawan yang berkunjung ke Pulau Gili Ketapangan dengan moda transportasi kapal tradisional berkisar 150-300 orang. 

Itu pun pada akhir pekan atau Sabtu dan Minggu saja. Sedangkan hari kerja, Senin-Jumat, rata-rata jumlahnya paling banyak 10 orang. 

Para wisatawan datang dari berbagai daerah, antara lain Surabaya, Malang, Mojokerto, dan Solo. 

"Penurunan penumpang wisatawan di masa pandemi Covid-19 mencapai 50 persen. Sebelum Covid-19 penumpang wisatan bisa sampai 500-600 orang pada akhir pekan," katanya , Senin (22/11). 

Suryono menyebut tarif naik kapal tradisional ke Gili Ketapang bagi wisatawan, pulang-pergi sebesar Rp 20 ribu. 

Sedangkan bagi warga Gili Ketapang pulang-pergi Rp 14 ribu. Harga yang dipatok sangatlah terjangkau. 

Jumlah kapal tradisional yang melayani tujuan Pelabuhan  Tanjung Tembaga Kota Probolinggo ke Gili Ketapang berjumlah 50 armada.  Satu kapal bisa diisi 20-30 orang, bergantung ukurannya. 

"Kini, penumpang kapal didominasi warga Gili Ketapang, utamanya pada Senin-Jumat. Mereka beraktivitas membeli bermacam kebutuhan di Kota Probolinggo. Selain itu juga para sanak saudara yang mengunjungi keluarga yang tinggal di Gili Ketapang," paparnya. 

Ia menjelaskan, karena sepinya wisatawan pendapatan para pemilik kapal penyeberangan tradisional menjadi anjlok 50 persen. 

Pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022, pemerintah mengambil kebijakan seluruh wilayah Indonsesia menerapkan PPKM Level 3, dimulai 24 Desember 2021.

Kemungkinan pemerintah pusat menutup destinasi wisata. 

Padahal momen libur Nataru, jadi kesempatan mendapat pundi-pundi uang dua kali lipat. 

Namun, Suryono tetap menghormati kebijakan pemerintah pusat untuk menekan penyebaran Covid-19. 

"Kalau wisata tutup saat libur Nataru, kami hanya bisa mengandalkan penghasilan dari warga Gili Ketapang yang beraktivitas menggunakan kapal tradisional," pungkasnya. (nen) 

 

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved