Usung Rumah Adat Jawa Ke Surabaya Ada Kandang Sapi Hingga Pawon

cari rumah di Tulungagung yang masih khas Jawa. Kemudian kami beli, dan kami bongkar, bawa ke Surabaya, rakit kembali seperti semula

Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/ habiburrahman
Rumah khas adat Jawa kini jadi incaran orang untuk dibuat tempat nongkrong 

 

Suryatravel – Ekterior dan interior rumah adat jawa kini lagi ngehit diusung kembali ke kota. Seperti dua sahabat Darmanto dan Suryani, yang memutuskan membuka usaha warung bertema Jawa.

Eksterior maupun interior warung yang khas Jawa itu diakui Suryani didapatnya dari Tulungagung.

"Jadi saya cari rumah di Tulungagung yang masih khas Jawa. Kemudian kami beli, dan kami bongkar, bawa ke Surabaya, rakit kembali seperti semula," jelas Suryani, pekan lalu  saat soft launching Warung yang diberi nama Merah Putih.

Diatas lahan itu mereka  membentuk kampung Jawa. Dengan berbagai bangunan khas Jawa, yang diberi nama Joglo, Sinom, Srotong, Pawon, Langgar, Kandang Sapi hingga Gazebo.

"Jadi depan, saya beri pintu masuk berupa gapura yang menyatu. Kemudian ada kandang sapi, gazebo dan lainnya. Interior tambahan saya beri kendi, dan gentong berisi air. Semuanya itu ada filosofinya," jelas Suryani.

Setelah pintu masuk, sebelah kanan tampak bangunan bekas kandang sapi. Kemudian Joglo. Dimana menurut Suryani, filosofi Joglo ada pada tiang pancangnya. Rumah Joglo berbentuk bujur sangkar dengan empat pokok tiang di tengahnya. Tiang ini disebut dengan istilah “saka guru”.

"Nah, penopang tiang itu merupakan blandar bersusun yang dikenal dengan nama “tumpang sari”. Seiring dengan perkembangan zaman, terdapat tambahan-tambahan dalam rumah Joglo ini. akan tetapi, yang paling mendasar adalah rumah yang tetap berbentuk persegi," jelas Suryani.

Ada dua joglo dengan beda ukuran di area tersebut yang berjajar. Selanjutnya tampak rumah Sinom, dan rumah Srontong. Menurut Suryani, rumah Sinom dan Srotong adalah rumah untuk warga kasta kedua dan ketiga di budaya Jawa.

"Kalau joglo, biasanya dimiliki kades dan sejajarnya. Sinom untuk pegawai dibawah kades dan sejajarnya. Sementara untuk Srotong adalah rumah warga desa yang berada di strata paling bawah," jelas Suryani.
Kemudian ada Pawon yang artinya dapur dan tentunya langgar atau mushola sebagai tempat sholat. "Dengan adanya ini, kami juga ingin menguri-nguri budaya Jawa. Kalau kesini tidak hanya makan di warungnya, namun juga bisa menikmati suasana khas Jawa ini," tambah Suryani.

Sementara untuk pengelolaan warung, giliran Darmanto yang bertugas termasuk sebagai chef. Menu-menu yang disajikan, diolah secara tradisional dari tangan Darmanto dibantu 8 waitres.
"Sajian menu juga khas Jawa. Seperti olahan lodeh, olahan sayur asem, bayam, tempe, tahu, ayam, dan lainnya," jelas Darmanto.

Selain menu utama, juga ada menu camilan, seperti pisang godok, kacang godong, ketela godok dan sejenisnya. Juga wedang uwuh, teh dan kopi khas Warung Merah Putih.

"Kami buka mulai pukul 07.00 WIB untuk melayani pengunjung yang ingin sarapan mungkin, sampai malam pukul 22.00 WIB, yang mungkin ingin nongkrong sambil nyamil," jelas Darmanto.
Kapasitas tempat duduk di area ini, bisa menampung 100 orang. Namun untuk standing atau tamu berdiri bisa mencapai 200 orang.( Sri Handi Lestari).

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved