Asyiknya Berburu “Sunrise” Di Ketinggian 2329 mdpl Gunung Bromo, Walau Suhu 13 Derajat Celcius

Dengan penerapan protokol kesehatan kini kemolekan dan keindahan alam Gunung Bromo sudah dapat di nikmati kembali

Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/ istimewa
Menikmati Sunrise di ketinggian 2939 mdpl Gunung Bromo 

Suryatravel – Salah satu destinasi wisata yang tak pernah bosan untuk dikunjungi meski sudah berkali kali adalah Gunung Bromo.

Dimasa pandemi seperti sekarang ini Gunung Bromo juga mengalami buka tutup untuk kunjungan wisatawan. Dengan penerapan protokol kesehatan kini kemolekan dan keindahan alam Gunung Bromo sudah dapat di nikmati kembali.

Umi Lailatus Sholihah salah seorang traveler dari Surabaya, Sabtu (9/01/2022) kemarin menghabiskan waktu seharian di Gunung Bromo. Ia bersama dua jagoannya Nadhif dan Rania, membagikan liburan serunya saat di Gunung Bromo.

Waktu menunjukkan pukul 02.42 WIB,  dini hari. Kami sampai di Parkiran Bukit Penanjakan Gunung Bromo.

Istirahat sebentar sambil ngemil dan ngopi untuk menyiapkan tenaga ekstra naik ke puncak 2329 Penanjakan.

Maklum setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Kota Surabaya rupanya tubuh butuh jedah sejenak, meski sebenarnya sudah tidak sabar untuk melangkah naik ke Penanjakan.

Puluhan wisatawan juga terlihat santai sejanak di warung warung sambil menikmati dinginnya suhu di Penanjakan.

Jelajah dengan Jeep di lautan pasir kawah Bromo
Jelajah dengan Jeep di lautan pasir kawah Bromo (suryatravel/ istimewa)

Tepat pukul 03.30, kami mulai beranjak naik ke bukit  Penanjakan dengan untuk mencari lokasi yang nyaman menjemput Sunrise.

Sambil menunggu sunrise terlihat para wisatawan menyantap minuman dan makanan sekadar menghangatkan tubuh.

Baca juga: Ingin Plesiran Ke Gunung Bromo Beli Tiketnya Harus Online, Begini Caranya

Ada teh, kopi, dan mi instan,  sebagian juga memanfaatkan waktu untuk shalat subuh di gazebo yang ada di dekat lokasi menyaksikan Sunrise.

Temperatur suhu di gadget menunjukkan angka 13 derajat celsius. Tanpa dikomando semua wisatawan kompak terlihat mengenakan baju hangat, seperti jaket, topi, dan sarung tangan.

Beberapa warung disekitar lokasi juga menawarkan penyewaan baju hangat , Hembusan angin lembah di ketinggian 2.329 mdpl menambah dingin semakin menusuk tulang, di salah satu  titik tertinggi untuk melihat sunrise Gunung Bromo pagi itu.

Tak lama menunggu lembuk sinar matahari mulai muncul dari ufuk timur, perlahan membuka pemandangan Gunung Bromo, seperti lukisan tapi kini nyata dan  membentang di depan mata.

Perjalanan dari Surabaya mennerjang hawa dingin dibayar tuntas. Para wisatawan sibuk mengabadikan momen dengan latar belakang Gunung Bromo.

Puas menyaksikan sunrise, kami kembali ke parkiran. Hawa dingin perlahan berubah menjadi hangat. Deru mesin Jeep sudah bersiap mengantarkan  kami untuk jelajah Gunung Bromo.

Perjalanan dilanjutkan menuju kawah Bromo, lalu ke Bukit Teletubbies, Padang Savana dan berakhir di Pasir Berbisik.

Hamparan luas lautan pasir Gunung Bromo
Hamparan luas lautan pasir Gunung Bromo (suryatravel/ istimewa)

Selain bukit Penanjakan, ada lima lokasi favorit yang biasa dikunjungi untuk melihat sunrise, yakni di Bukit Cinta, Bukit Mentigen, Pos Dingklik, Bukit Kingkong, dan Seruni Point.

Selama pandemi, pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih membatasi pengunjung berdasarkan kuota. Masing masing titik atau lokasi wisata juga berbeda jumlah kuotanya.

Salah satu aturan adalah soal pembelian tiket. Pengunjung hanya bisa membeli secara online lewat situs web resminya. 

Jadi sudah tak ada lagi membeli tiket langsung atau on the spot demi menghindari adanya kerumunan.  Tiket ke kawasan wisata Gunung Bromo bisa dibeli melalui website https://www.bookingbromo.bromotenggersemeru.org/.

 

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved