Cerita Traveler Fifin Maidarina :Bukit Watu Jengger Pelampias Rindu Gunung Di Sibuknya Rutinitas

Watu Jengger berada di daerah Mojokerto, tepatnya di desa Nawangan, Jatirejo. Kalau mencari petunjuk pada Google Maps cari parkiran watu jengger

Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/ istimewa
Watu Jengger masuk dalam area Tahura Soedjo mMasih merupakan rangkaian area Gunung Anjasmoro. 

Suryatravel - Ketika kaki sudah gatal dan mata sudah rindu keindahan, tapi tanggal merah masih jauh di depan mata, banyak alternatif tempat wisata yang bisa dikunjungi akhir pekan. Bahkan banyak bukit di sekitaran Jawa Timur yang bisa ditempuh cukup sehari untuk pulang pergi. Salah satunya Watu Jengger.

Watu Jengger masuk dalam area Tahura Soedjo. Masih merupakan rangkaian area Gunung Anjasmoro. Selain Watu Jengger, gunung Anjasmoro dikelilingi oleh banyak bukit cantik, seperti Bukit Pecaringan, Bukit Semar, Bukit Seloringgit, dan masih banyak tempat wisata di sekitarannya, yang bisa dijadikan daftar liburan berikutnya.

Watu Jengger berada di daerah Mojokerto, tepatnya di desa Nawangan, Jatirejo. Kalau mencari petunjuk pada Google Maps, pilih saja Parkiran Bukit Watu Jengger. Dari Surabaya ke arah Trowulan. Belok ke arah kiri di daerah Jatirejo. Sampai persimpangan dengan Desa Lebak, masuklah ke arah Desa Nawangan.

Jere sudah lama ingin mencicipi Watu Jengger, tapi terhalang jadwal libur dia yang tidak selalu dapat di akhir pekan. Sampai akhirnya November 2021, rencana itu bisa terlaksana. Farid yang belum pernah naik gunung, diajak ikut serta.

Sebelum matahari terbit, rombongan kecil ini sudah meluncur dengan dua motor. Mampir sarapan di kota Mojokerto, sambil istirahat sejenak.

Sengaja berangkat sepagi mungkin, sehingga bisa merasakan matahari pagi saat perjalanan. Lagipula bulan November sudah musim hujan. Selepas tengah hari, khawatir hujan akan mengguyur.

Tidak berlama-lama, motor melaju kembali ke jalanan. Selepas area pemukiman di Jatirejo, mata langsung terpesona.

Deretan rapat pohon jati dengan matahari terbit yang menyembul di sela-sela menjadi pemandangan yang begitu istimewa. Jalanan masih sepi pagi itu. Benar-benar serasa memasuki dunia lain selepas bising jalanan.

Saking terpesona dengan deretan pemandangan cantik ini, tak terasa tubuh dibawa ajojing, karena memasuki jalanan yang mulai rusak. Sudah tidak beraspal. Makadam penuh dengan bebatuan kecil. Jalanan juga mulai menanjak. Fokus berpindah pada lajunya kendaraan.

Memasuki Desa Nawangan, jalanan semakin sempit dengan jalur yang masih makadam. Disarankan membawa motor, akan lebih nyaman. Mengkhawatirkan jika membawa mobil dan harus berpapasan dengan mobil lain.

Sampai pada jalur tanjakan yang cukup tajam. Tak yakin motor sanggup untuk terus melaju. Bertanya pada warga, pemilik rumah terakhir di dekat tanjakan tersebut.

Ibu tersebut menyarankan motor-motor ini dititipkan saja di halaman rumahnya. Biasanya motor pendaki juga sampai titik sini. Motor-motor yang biasa naik hanyalah motor para pengangkut rumput.

Menarik nafas sejenak sambil menyiapkan bawaan. Tidak berencana menginap, sehingga tidak membawa tenda, hanya kompor dan perlengkapan memasak untuk makan siang di bukit. Cukup dengan ransel kecil saja.

Jaket dan jas hujan tetap dibawa untuk jaga-jaga. Sementara baju ganti jika basah, biarkan ditinggal di motor saja.

Saatnya memulai perjalanan. Pemanasan pertama tentu tanjakan tajam tadi. Tapi itu tidak panjang. Selepasnya cenderung datar. Melewati jalanan setapak, dengan deretan pohon di kiri kanan.

Sepuluh menit berjalan, sampai akhirnya melihat satu bangunan semi permanen dengan atap. Seperti lahan parkiran motor. Tak jauh tampak gerbang pendakian dan satu bangunan utama di sisi kanan, pos pendaftaran.

Hari itu sepi. Tidak ada pendaki lain, selain rombongan kecil ini. Sebelum pos hanya sempat berpapasan dengan motor penduduk selepas ngarit rumput. Liburan seperti inilah yang menyenangkan. Menengok keindahan alam yang serba hijau dan jauh dari hiruk pikuk.

Senyum tak lepas dari wajah Farid. Jere lebih bersemangat, dengan banyak berceloteh sepanjang jalan. Itu tandanya medannya nyaman. Belum ada tanjakan. Tanah basah dengan sedikit bebatuan menjadi medan utamanya.

Sampai memasuki lahan penuh dengan pohon tinggi. Mencari papan petunjuk. Jalurnya mengarah ke sisi kiri. Hampir satu jam perjalanan barulah sampai Pos 1. Sebuah lahan terbuka.

Tidak ada gubug. Yang ada bekas bangku yang sudah tidak bisa digunakan di salah satu ujung. Beristirahat sejenak dengan minum dan nyemil coklat.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved