Rehat Sambil Menikmati Harum Kopi Di Pesanggrahan Bukit Mrawan Cafe, Jember

Pesanggrahan Bukit Mrawan Cafe & Restoatau cafe Mrawan tongkronganberada di Desa Sidomulyo Kecamatan Silo, Jember

Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/Sri wahyunik
Pesanggrahan Bukit Mrawan Cafe & Resto merupakan nama resmi tempat yang berada di Desa Sidomulyo Kecamatan Silo, Jember, 

Suryatravel - Aroma bunga kopi menyeruput menyapa indra penciuman saat masuk  Cafe Mrawan, pekan lalu.

Tak lama berselang, deru laju kereta api terdengar.

"200 meter ke belakang, lewat jalan setapak samping kafe ini kan terowongan. Terowongan yang pendek," tutur Hari Pranggono, pengelola Pesanggrahan Bukit Mrawan Cafe & Resto kepada Surya.

Pesanggrahan Bukit Mrawan Cafe & Resto merupakan nama resmi tempat yang berada di Desa Sidomulyo Kecamatan Silo, Jember,

Cafe mrawan 2

Salah satu sudut cafe Mrawan
Salah satu sudut cafe Mrawan (suryatravel/Sri wahyunik)

namun tongkrongan ini kerap disebut Cafe Mrawan.

Cafe Mrawan kini bisa menjadi alternatif wisata kuliner, sekaligus tempat nongkrong di Jember. Tidak hanya itu, di masa arus balik Lebaran Idul Fitri 2022  tempat itu juga bisa menjadi alternatif beristirahat bagi anda para pemudik.

Cafe Mrawan berada tepat di tepi jalur nasional Gunung Gumitir, yang menghubungkan Jawa - Bali, atau Banyuwangi - Jember. Jalur yang selalu dilewati pengendara 24 jam non-stop.

Pengendara dari arah Banyuwangi atau Bali, bisa langsung berbelok ke jalan masuk kafe tersebut.

Sedangkan dari arah Jember atau Surabaya, pengendara disarankan tidak berbelok langsung ke kanan atau ke arah kafe, namun memutar di pintu masuk tower TVRI.

Karena memang jalan masuk kafe itu berada tepat di jalur berkelok Gunung Gumitir.

Namun ketika anda masuk ke area kafe dan resto, mata akan dijamu dengan bangunan heritage yang dibangun di tahun 1942, atau sebelum masa kemerdekaan RI.

Tempat itu dikenal dengan nama Pesanggrahan, atau sebuah tempat beristirahat. "Vila lah kalau sebutan jaman sekarang," imbuh Komo, panggilan akrab Hari Pranggono.

Pesanggrahan itu ada di era tumbuhnya perkebunan di Kabupaten Jember. Kini tempat itu secara resmi menjadi aset Perhutani.

Hingga akhirnya di akhir Januari 2022, tempat itu dikembangkan menjadi kafe dan resto, setelah bertahun-tahun tidak dimanfaatkan.

Ruangan dalam di bangunan itu, tidak lagi berbentuk vila yang terdiri dari kamar-kamar atau ruang tamu.

Namun kerangka bangunan masih asli seperti awal bangunan itu berdiri. Pintu kayu dan kaca yang lebar, di depan, belakang, samping kanan dan kiri, masih pintu lawas yang tetap terawat.

Begitu juga dengan jendela panjang, dan lebar yang menjadi ciri khas bangunan di era kolonialisme Belanda.

Kini area dalam bangunan los, ditempati meja dan kursi untuk kafe dan resto. Sebuah pantri bundar di tengah ruangan, akan terlihat oleh pengunjung yang masuk lewat empat pintu di bangunan tersebut.

Resto dan kafe itu sejuk karena berada di perbukitan. Bagi anda yang lelah berkendara, secangkir kopi atau teh hangat, bisa menjadi pilihan.

Tentunya ada kudapan yang bisa menemani sambil merasakan sepoi angin, dan membau harumnya bunga kopi.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved