Dari Berjualan Sendiri, Kini Ada 24 Lapak Mitra Lumpia Fajar

Di Tahun 2018, Stefani kembali melirik ke lumpia, ia beranggapan jajanan ini adalah jajan klasik yang sudah lama ada

Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel / ahmad zaimul haq
Lumpia Fajar 

Suryatravel - Tahun 2010, Stefani memulai debutnya di dunia kuliner, ia membuka lapak berupa rombong kecil di depan rumah di Kawasan Buduran Sidoarjo.

“Saya pikir di dekat jalan yang ramai pastinya ramai juga pembeli ternyata tidak dan nggak masuk waktu itu,” katanya.

Ia tidak hanya berjualan lumpia tapi juga jajanan basah lainnya, ada aneka macam masakan jengkol.

“Suka eksperimen dengan bahan baku yang tidak mudah di dapat,” tukasnya.

Tidak berapa lama, Stefani menutup lapaknya, tapi ia berganti ke katering dengan jualan secara online.

Di Tahun 2018, Stefani kembali melirik ke lumpia, ia beranggapan jajanan ini adalah jajan klasik yang sudah lama ada dan banyak digemari orang.

“Walau sekedar lumpia, tapi tidak sekedar lumpia. Pilih lumpia, saya pikir Makanan khas klasik sebelum saya lahir sudah ada,” katanya.

Sambil terus mencari pakem rasa lumpia, sementara ia hanya berjualan kulit lumpia.

Namun pelanggannya banyak yang tanya kenapa tidak membuat sekalian isinya.

“Saya yakin karena saya bisa bikin kulit lumpia ala Semarang,” katanya.

Ia mulai mencari supplier rebung, bumbu juga mulai ia dapat pakemnya. Jadilah ia membuka rombong lumpia kecil.di kawasan Kutisari Utara.
Ia masak sendiri dan dijual secara live cooking di tempat itu.

“Isian lumpia bikin di rumah, kulit bikin di tempat itu harapannya orang tertarik dengan live cooking,” lanjutnya.

Dari situlah lumpia fajar yang saat itu masih bernama lumpia Semarang mulai dikenal. Hingga berganti nama beberapa kali dan kini menjual dengan nama Lumpia Fajar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved