Gurih Manis Lumpia Fajar Bikin Nagih Pelanggan

Bicara tentang lumpia, malayang dibenak adalah makanan atau jajanan khas kota Semarang, lumpia Semarang

Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel / ahmad zaimul haq
Stefani dan lumpia fajar yang dirintisnya 

Suryatravel - Usaha kuliner membutuhkan bukan saja konsistensi kekhasan rasa tapi juga bagaimana cara menjual yang rapi.

Itulah yang kini dilakukan Stefani Ganda Saputri, ibu dua anak kelahiran Jalan Gembong Surabaya yang kini sukses dengan berjualan kue lumpia.

Bicara tentang lumpia, malayang dibenak adalah makanan atau jajanan khas kota Semarang, lumpia Semarang.

“Ya betul kalau ngomong lumpia selalu identik dengan makanan kue khas Semarang,” kata Stefani di kedai dan dapur utama Lumpia Fajar, Jalan Kutisari Surabaya.

Siang itu sebuah mobil MPV warna putih masuk ke halaman kedai lumpia fajar, setelah berhenti dan dibuka pintu belakang, terlihat kantong plastik ukuran besar yang memenuhi bagasi.

Bahkan jok belakang sengaja dilipat agar dapat memuat lebih banyak barang barang.

Ternyata isinya adalah bumbu tauco yang masih hangat. “Saya bikin bumbunya di rumah, lalu saya bawa ke sini,” kata Stefani.

Di rumahnya, ia juga menyiapkan bumbu tauco dibantu beberapa pegawainya.

Sementara di kedai dan dapur utama Lumpia Fajar di Kutisari juga ada puluhan pegawai yang menyiapkan adonan kulit lumpia berikut varian isinya.

Di tempat ini juga para mitra lumpia Fajar mengambil lumpia untuk dijual kembali di lapaknya.

“Mereka para mitra mengambil sendiri kebutuhan untuk jualan disini, selama jam kerja kami akan layani,” ujarnya.

Saat ini mitra lumpia fajar berjumlah sekitar 24 mitra yang tersebar di Surabaya, Gresik, Pasuruan, Malang dan Sidoarjo.

Soal rasa, Stefani membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mendapatkan konsistensi rasa yang disuka pelanggannya.

Ia mengenal lumpia Semarang yang selalu identik dengan rasa manis. Sementara orang Surabaya dan sekitarnya tidak bisa meninggalkan rasa gurih.

“Saya coba untuk memadukan keduanya, rasa manis yang sudah menjadi ikon lumpia Semarang dan orang Surabaya yang tak bisa meninggalkan rasa gurih dan hasilnya banyak yang suka,” paparnya.

Stefani tidak mau kalau usahanya sekarang dibilang menjejak ibunya yang juga berjualan lumpia saat masih di Jalan Gembong Surabaya.

“Ibu saya memang suka memasak dan juga berjualan lumpia, tapi saya juga memasak dan membuat kue, saya suka mencoba coba bikin masakan,” ungkapnya.

Kalau soal rasa jelas beda sekali, dulu lumpia ibu saya mungkin dengan taste asli Surabaya yang gurih.

Tapi saya membuat beda karena masih tetap membuat rasa lumpia Semarang ada di Lumpia Fajar.

 

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved