Upacara Adat Ulur-ulur di Tulungagung Turun Temurun Sudah Ada Sejak Era Majapahit

Upacara adat Ulur ulurdiperkirakan sudah dilakukan warga secara turun temurun sejak era kerajaan Majapahit.

Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/istimewa
Upacara adat ini diperkirakan sudah dilakukan warga secara turun temurun sejak era kerajaan Majapahit. 

Suryatravel - Masyarakat Adat Kasepuhan Sendang Tirto Mulyo Tulungagung  menggelar upacara adat ulur-ulur setiap bulan Selo, pasaran Jumat Legi.

Upacara ini melibatkan empat desa di Kecamatan Campurdarat, yaitu Sawo, Ngentrong, Gedangan dan Gamping.

Mereka mengucap syukur kepada Tuhan atas keberadaan Telaga Buret, yang mengairi area persawahan di empat desa ini.

Upacara adat ini diperkirakan sudah dilakukan warga secara turun temurun sejak era kerajaan Majapahit.

Hal ini diungkapkan arkeolog Universitas Malang (UM) kelahiran Tulungagung, Dwi Cahyono.

"Ulur-ulur ini tradisi sangat kas di Tulungagung, terutama sub area selatan Tulungagung. Ini area kapur atau kendeng kidul," terang Dwi.

Pada masa awal, masyarakat sangat tergantung pada sumber air.

Selain di Buret, upacara serupa juga ditemukan di Telaga Ngambal di Kalidawir, dan Telaga Ngembel di Desa Ngentrong.

"Ulur-ulur ini sangat berkaitan dengan pertanian. Berkaitan dengan distribusi air ke area persawahan," tutur Dwi. 

Ulur-ulur berasal dari kata hulair, kemudian menjadi hulur. 

Kata ini adalah sebutan untuk petugas pengurus air, atau penghulu air. 

Di masa lalu ada yang disebut mantru ulu-ulu, yang mirip Jogo Tirto di masa sekarang.

Di masa lalu empat desa ini berkembang berkat pasokan air dari Telaga Buret.

Warga empat desa ini lalu menggelar upacara ucapan syukur setiap Bulan Selo, hari Jumat pasaran Legi.

"Upacara ini dilakukan setelah masa panen, sebagai bentuk ucapan syukur atas keberadaan Telaga Buret," ungkap Dwi.

Dwi pun mencoba mengindetifikasi sejarah lahirnya tradisi ini.

Ia menemukan situs Hindu Siwa di tepian barat Telaga Buret, diduga bekas sebuah candi.

Hal ini dikuatkan dengan temuan dorpel atau ambang pintu dan umpak dengan tonjolannya mirip watu kenong.

Sebelumnya warga juga mengungkapkan adanya arca Dewi Sri namun sudha hilang. 

Saat ini upacara adat masih menggunakan arca Dewi Sri, namun berupa duplikat.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved