Kajoetangan Poenja Tjerita#2, Sejarah Kawasan Kayutangan Dari Masa Ke Masa

Mengusik cerita tentang cagar budaya di kawasan ini, digelar kegiatan Kajoetangan Poenja Tjerita#2.

Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/ rifky edgar
Banyak rumah cagar budaya ini masih terawat dan terbuka untuk umum. Jalan Kayutangan ini ada sebelum ada Kota Malang. 

Suryatravel – Banyak cerita menarik tentang kawasan heritage Kayutangan di Kota Malang.

Mengusik cerita tentang cagar budaya di kawasan ini, digelar kegiatan Kajoetangan Poenja Tjerita#2.

Acara ini membahas tentang rumah Namsun atau dikenal masyarakat sebagai rumah Namsin di Jl Basuki Rahmad (Kayutangan) no 31, Rabu malam (29/6/2022) lalu.

Rumah cagar budaya ini masih terawat dan terbuka untuk umum.

Hadir dalam cerita ini adalah Irawan Prajitno, pemandu wisata heritage dan pemilik rumah cagar budaya Jl Anjasmoro 25 serta Yehezkiel Jefferson, cucu pemilik rumah dan Agung Buana, pemandu acara.

Tak hanya membahas rumahnya, Irawan mengajak kembali pada masa kejayaan Kanjutangan sebagai pusat bisnis pada 1919 sampai 1930.

Sampai akhirnya meredup karena kehadiran mal. Dan akhir-akhir ini bak didatangi laron-laron karena lampu-lampunya.

Kini tumbuh kafe-kafe meski banyak toko yang masih tutup. Pada 2015 ke atas, kondisinya parah karena tidak ada aktifitas.

“Jalan Kayutangan ini ada sebelum ada Kota Malang. Ini adalah jalan koneksi utara malang ke Alun-Alun,” kata Irawan.

Disana ada pendopo bupati. Ada Jodipan, Kebalen dll. Ketika jadi kota praja pada 1914, di Kajutangan sudah ada yang tinggal. Bukan toko-toko. Tapi hunian rumah yang petak-petak besar.

Dari foto-foto lama, pada 1919 sampai 1930 an jadi lokasi bisnis. Ada yang jual roti, motor, cetak foto, apotek dan aktifitas bisnis lainnya.

Sebagai penggeraknya adalah warga Belanda dan Cina. Dalam foto lama, di Kayutangan juga ada rel trem. Juga dokar yang lewat.

Sedang inlander berjualan jajanan pikul dari Jodipan dan Desa Oro-Oro Dowo. Dalam perkembangannya, warga jika jalan-jalan ke Malang pasti KCM (Kayutangan Pecinan Moleh). Sebab jalur itu pusat bisnis.

 Hezkiel, cucu pemilik rumah Namsin mendapatkan sejarah rumah kakeknya dari Saiful Akbar, pegiat literasi Kayutangan. Pemiliknya bergantian. Kakeknya membeli rumah itu pada 1970 an.

Pemilik pertama tidak diketahui. Pemilik kedua adalah orang Belanda yang bisnis diler motor. Loius Cornelis Verhey.

Ia menjual motor impor terkenal seperti Harley Davidson, Douglas dari Inggris dan FN Belgia. Pemilik kedua adalah orang Jerman bernama W Ravenschlag.

Ia jualan piano dan pemilik bioskop Grand yang kemudian jadi toko Mitra 1 dan disewa Matahari kini.

Pada tahun 1932, di Kayutangan banyak yang pindah kepemilikan. Dari toko piano itu kemudian jadi studio foto. Ada merek-merek timbul di tembok rumah Namsin bertuliskan Agfa.

Pada zaman Jepang, rumah diambil alih Jepang jadi toko. Tahun 1945 ke atas ada nama usaha Namsin.

“Kalau di Surabaya ada nama Namsin di Tunjungan tahun 1960 an. Kakek saya beli tahun 1970-an di rumah Malang ini,” papar pria muda ini.

Maka antara 1945-1970 an, tidak ditemukan catatan sejarah pada rumah ini. Pada akhir 2021, ia menemukan kuitansi Toko Pasifik pada pada 1947 yang menjual onderdil dengan alamat Kayutangan 31. Sylvianita Widyawati

 

 

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved