Sejarah Jamasan Tombak Pusaka Kanjeng Jimat Kiai Upas Tulungagung

jamasan Kiai Upas ini saat yang ditunggu, sebagai penanda jamasan pusaka lainnya sudah bisa dilakukan.

Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel / david yohanes
Winarto sedang menjamas tombak pusaka Kiai Upas, tombak pusaka milik Kabupaten Tulungagung. 

Mereka yang bertugas mengamankan dan menyiapkan semua ubo rampe keperluan jamasan.

Sementara Winarto adalah penjamas, atau tukang cuci pusaka generasi keempat sejak eyang buyutnya.

"Jadi dulu dari mbah buyut, dilanjutkan kakek, lalu ke bapak saya terus saya," paparnya.

Sejarah Kiai Upas
Legenda Kiai Upas dipercaya sebagai lidah dari Naga Baruklinthing, mirip dalam kisah asal-usul Rawa Pening.

Naga ini akan melingkari Gunung Merapi, untuk mendapat pengakuan anak dari ayahnya, seorang begawan.

Kurang sedikit naga ini nyaris berhasil melingkari gunung merapi, karena itu ia menjulurkan lidahnya.

Saat lidahnya terjulur itulah lalu dipotong oleh sang ayah dan berubah menjadi bilah tombak.

Menurut sejarah tutur yang terpelihara selama ini,  tombak Kiai Upas dulunya adalah pusaka Ki Ageng Mangir Wanabaya, atau Mangir IV.

Ki Ageng Mangir  adalah penguasa wilayah perdikan di era Majapahit, yang kemudian masuk ke wilayah Mataram.

Raja Mataram kala itu, Panembahan Senopati berusaha menaklukan Mangir.

Namun karena kesaktian tombak pusaka Kiai Upas, Mangir tidak terkalahkan.

Akhirnya raja mengirim anaknya, Retno Pembayun untuk memperdaya Mangir.

Retno Pembayun yang menyamar jadi penari tledek berhasil memikat hati Mangir.

Keduanya kemudian menikah. Seiring perjalanan waktu, Pembayun mengungkap jati dirinya sebagai anak raja.

Ia kemudian mengajak Mangir untuk menghadap ayahandanya, yang juga seorang raja Mataram.

Saat hendak sowan mertua inilah, Mangir harus meninggalkan tombak Kiai Upas.

Sebab tradisi ketika menghadap raja  tidak boleh membawa senjata.

Tanpa senjata Mangir menghadap mertuanya dan menghaturkan sembah.

Saat sedang menyembah itulah kepalanya dibenturkan oleh mertuanya hingga meninggal dunia. 

Namun sepeninggal Mangir, tombaknya menimbulkan pagebluk (wabah penyakit).

Untuk menghentikan pagebluk, tombak pusaka ini dibawa ke Kadipaten Ngrowo, yang sekarang menjadi Kabupaten Tulungagung.

Pagebluk pun berhenti dan tombak pusaka ini terpelihara sampai sekarang di Tulungagung. (David Yohanes)
 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved