Sejarah Monumen Batalyon Sikatan di Simpang Tiga Ngantru Tulungagung, Ada Pertempuran Hebat Disini

Monumen Perjuangan Batalyon Mobile 507/Sikatan di Simpang Tiga Ngantru Tulungagung akan dipindah.

Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel / david yohanes
Monumen Batalyon Sikatan yang berdiri di Simpang Tiga Ngantru Tulungagung 

Suryatravel - Monumen Perjuangan Batalyon Mobile 507/Sikatan di Simpang Tiga Ngantru Tulungagung akan dipindah.
 
Batalyon ini telah berubah menjadi Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 500/Sikatan yang bermarkas di Surabaya.
 
Monumen ini dibangun untuk memperingati perjuangan batalyon mobile di era agresi militer ke-2 Belanda,  akhir tahun 1948 akhir. 
 
Komandan Kompi Markas Yonif Raider 500/Sikatan, Lettu Iskak Sutarman, mengatakan di lokasi monumen ini dulunya terjadi pertempuran besar dengan Belanda. 
 
Saat itu, sekitar  awal tahun 1949 ada pasukan Belanda dari Srengat, Blitar yang akan merebut Tulungagung.
 
Belanda berusaha menghancurkan jembatan dengan bahan peledak.
 
Sementara Batalyon Sikatan telah menempatkan beberapa pasukan kecil untuk menghadang.
 
Batalyon Mobile ini saat itu bermarkas di Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru, tidak jauh dari Jembatan Ngujang. 
 
"Mereka menggunakan alat berat. Sementara kita pakai senjata ringan, dan ada beberapa semi otomatis," terang Lettu Iskak.
 
Pertempuran sengit ini berlangsung selama satu malam.
 
Pasukan Sikatan berhasil menewaskan seorang Brigadir Jenderal Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
 
NICA adalah  otoritas sipil dan militer yang berfungsi sebagai perpanjangan tangan pemerintah Belanda, untuk wilayah bekas jajahan Hindia Belanda.
 
"Catatan sejarah, ada seorang Brigjen NICA yang tewas. Namun tidak ada catatan namanya," sambung Iskak. 
 
Dalam pertempuran itu pasukan Sikatan menang dan memukul mundur Belanda.
 
Namun sejumlah anggota batalyon gugur dalam pertempuran ini.
 
Monumen ini kemudian dibangun untuk mengenang pertempuran heroik itu. 
 
"Itulah kenapa monumen ini didirikan di Tulungagung. Ada peristiwa besar yang pernah terjadi di sini," ujar Lettu Iskak.
 
Lanjutnya, nama sikatan diambil dari nama burung yang dikenal sangat lincah.
 
Burung ini menyergap mangsa dengan cepat, lalu meliuk-liuk terbang dengan cepat.
 
Karakter sikatan ini persis dengan karakter Batalyon yang dikenal mobile, bergerak cepat memukul musuh lalu menghilang.
 
Nama sikatan juga merujuk pada batalyon tukang sikat, atau tukang menghancurkan lawan.
 
Sikatan dikenal sebagai batalyon yang tidak pernah gagal dalam penugasan.
 
"Tradisi itu kami jaga sampai hari ini. Sikatan selalu berhasil dalam setiap tugas," tegas Lettu Iskak. (David Yohanes) 
 

 
 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved