Bangkitkan Nasionalisme Lewat Film Sayap Sayap Patah

Film Sayap-sayap Patah ini justru menembus box office, bahkan kini ada di posisi kelima dari sepuluh besar.

Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Wiwit Purwanto
suryatravel/istimewa
Dari Kiri – Ke kanan, Ketua Umum DPP Bara Nusa, Gianto Wijaya, Emil Dardak, Wagub Jatim, Deny Siregar, Produser Film Sayap-sayap Patah dan Frangky Chandra, Ketua Bara Nusa Jatim saat nobar di film Sayap-sayap Patah di Studio XXI TP 3 Surabaya 

Suryatravel – Antusiasme warga Surabaya untuk menonton film nasional cukup tinggi. Terbukti saat nobar Film Sayap Sayap Patah di Tunjungan Plasa 3 pekan lalu.

Film yang diproduseri Deny Siregar ini telah mencapai 2,4 juta penonton.

Acara nobar ini semakin meriah karena juga dihadiri Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak, bersama Ketua Umum DPP Bara Nusa, Gianto Wijaya serta Ketua Bara Nusa Jatim, Frangky Chandra.

Ditemui disela nobar, Deny mengatakan, saat ini masih sangat jarang film bergenre nasionalis menggapai penonton dalam jumlah besar.

Film Sayap-sayap Patah ini justru menembus box office, bahkan kini ada di posisi kelima dari sepuluh besar.

“Jumlah 2,4 juta penonton ini luar biasa untuk sebuah film sejarah dan nasionalisme. Sekarang ini, nobar di Plasa Tunjungan ini sudah full book kursi satu studio yang berjumlah 218,” katanya Minggu (18/9/2022).

Menurutnya film ini diminati anak anak muda sebab mengkolaborasikan antara sejarah dan kisah romansa.

Deny merasa tertantang ketika memproduseri film ini, ia menghadirkan sesuatu yang baru. Dan mencoba menyajikan film dengan sarat pesan moril.

“Pertama, ini monumen dari kejadian Mako Brimob 2018. Sebab sudah banyak yang melupakan peristiwa itu gugurnya lima orang anggota Densus 88,” ujarnya.

Film ini memang sangat menarik. Kejadian di Mako Brimob bukan hanya sekedar gugurnya lima anggota Densus semata. Namun juga ada dibumbui dengan kisah romansa.

“Ada kisah cinta yang menarik yang saya angkat yakni seorang anggota Densus dengan istrinya yang kebetulan sedang hamil tua. Dan kita ambil ini sebagai inspire true story,” lanjutnya.

Film Sayap-sayap Patah ini kata Deny mendedikasikan di balik baju seorang pelindung hukum yang banyak dipersepsikan pekerjaan polisi merupakan pekerjaan seorang super hero.

“Dari sini saya ingin menunjukkan bahwa seorang polisi itu juga manusia biasa juga yang sama seperti kita,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Bara Nusa Gianto mengungkapkan, gelaran nobar ini bermaksud untuk mengingatkan masyarakat sebab beberapa bulan terakhir banyak isu mengguncang institusi Polri. Terbaru yakni kasus Sambo.

“Di situ reaksi dari masyarakat juga sangat negatif. Pesan kita di sini bahwa sebenarnya masyarakat harus menonton dan melihat kondisi sebenarnya di dalam kepolisian kita. Dan sebenarnya masyarakat masih sangat butuh adanya institusi kepolisian,” ujar Gianto.

Hal senada juga yang disampaikan Ketua Bara Nusa Jatim, Frangky Chandra, ia mendukung segala upaya nasionalisme kendati dalam bentuk perfilman.

“Dengan film ini mudah-mudahan bisa membantu masyarakat untuk tetap bersatu dengan hati yang dingin menghadapi apapun yang terjadi pada Bangsa Indonesia ini,” tandasnya.

 

 

 

 

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved